SUMATERA UTARA — Menteri Perindustrian mengumumkan bahwa PT Pindad, perusahaan BUMN yang dikenal lewat produk alat berat dan kendaraan taktis, akan memegang peran sebagai perancang mobil nasional. Pengumuman ini disampaikan langsung dalam sebuah kesempatan resmi, menegaskan komitmen pemerintah terhadap kemandirian industri otomotif Tanah Air.
Harapan utama dari proyek ini adalah capaian TKDN yang tinggi. Menperin secara spesifik menyebut bahwa mobil nasional ini harus punya persentase komponen lokal yang lebih besar dari produk-produk yang sudah ada di pasar Indonesia saat ini. Langkah ini dinilai krusial untuk mengurangi ketergantungan pada impor dan menggerakkan rantai pasok dalam negeri.
Pindad sendiri bukanlah pemain baru di ranah kendaraan. Mereka sudah memiliki pengalaman memproduksi kendaraan taktis seperti Komodo dan Maung untuk kebutuhan militer dan sipil. Namun, masuk ke segi empat roda (MPV atau SUV) untuk konsumen massal tentu punya tantangan tersendiri dari sisi skala produksi dan harga.
Dengan skema desain oleh Pindad, pemerintah ingin memastikan bahwa sejak tahap perencanaan, komponen lokal sudah dimasukkan ke dalam blueprint kendaraan. Ini berbeda dengan model CKD atau CBU yang mayoritas komponennya masih impor. Jika berhasil, proyek ini bisa menjadi katalis bagi industri kecil dan menengah (IKM) penghasil komponen otomotif.
Belum ada detail spesifik soal model, kapasitas mesin, atau estimasi harga yang diungkap. Yang jelas, pemerintah menekankan aspek TKDN sebagai indikator utama keberhasilan program ini. Pindad diharapkan bisa menggandeng vendor lokal dan institusi riset untuk mengoptimalkan kandungan lokal.
Pertanyaan yang kerap muncul adalah mengapa Pindad yang ditunjuk, bukan pabrikan swasta seperti Toyota, Daihatsu, atau Honda yang sudah punya basis produksi besar di Indonesia. Jawabannya ada pada misi strategis: Pindad adalah BUMN yang bisa diarahkan untuk proyek non-profit oriented demi kepentingan nasional jangka panjang.
Pabrikan swasta memang punya kapasitas produksi massal, tetapi keputusan desain dan rantai pasok mereka sering kali ditentukan oleh prinsipal di luar negeri. Dengan Pindad sebagai desainer utama, pemerintah punya kendali penuh terhadap pemilihan pemasok lokal.
Proyek mobil nasional ini bukanlah yang pertama dalam sejarah otomotif Indonesia. Sebelumnya ada Timor, Esemka, hingga Marlip. Bedanya, kali ini pendekatannya lebih hati-hati dengan fokus pada TKDN sejak tahap desain. Belum ada timeline pasti kapan purwarupa atau produksi massal akan dimulai.