SIMALUNGUN — Sebanyak 79 unit SPPG di Kabupaten Simalungun dan 42 unit di Kota Pematangsiantar membutuhkan pasokan bahan pangan dalam skala besar setiap pekannya. Kebutuhan rutin inilah yang coba dijembatani Bank Indonesia melalui forum pertemuan antara pengelola SPPG dan pelaku usaha kecil menengah setempat.
Kepala Perwakilan BI Pematangsiantar, Ahmadi Rahman, menyebut kegiatan ini merupakan wujud kolaborasi nyata menjaga stabilitas harga sekaligus mendukung program nasional. "Ini akan membuka peluang luas bagi pelaku usaha untuk berkembang dan naik kelas," ujarnya dalam sambutan yang dibacakan di hadapan para pengelola SPPG dan pelaku UMKM.
Para pengelola SPPG didorong untuk memberikan ruang seluas-luasnya bagi pengusaha lokal sebagai pemasok utama. Di sisi lain, pelaku usaha diminta terus meningkatkan kualitas produk sesuai standar keamanan pangan.
Ahmadi Rahman menyampaikan tiga pesan utama dalam mendukung program MBG. Pertama, menjaga stabilitas harga pangan di tingkat daerah. Kedua, bersinergi mendukung program MBG dan digitalisasi. Ketiga, menggerakkan ekonomi lokal demi kemandirian daerah.
Sekretaris Daerah Kabupaten Simalungun, Mixnon Andreas Simamora, yang membuka acara tersebut menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mendukung pengembangan UMKM. Dalam amanat tertulis Bupati Simalungun yang dibacakannya, forum ini diharapkan menjadi jembatan pertukaran informasi dan kesepakatan bisnis antara kedua belah pihak.
"Pemerintah daerah berkomitmen mendukung pengembangan UMKM melalui kebijakan yang berpihak pada kemajuan usaha rakyat," demikian bunyi amanat tertulis Bupati Simalungun yang dibacakan Mixnon. Acara ini turut dihadiri Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi Provinsi Sumatera Utara, Donal Simanjuntak, serta Asisten Administrasi dan Umum, Dedy Tunasto.
Langkah ini dinilai strategis mengingat volume kebutuhan SPPG yang besar dan berkelanjutan. Dengan melibatkan UMKM lokal, rantai pasok program MBG diharapkan lebih efisien sekaligus menggerakkan perekonomian warga sekitar.