Pemerintah AS Tahan Rilis Publik OpenAI GPT-5.6, Akses Dibatasi untuk Mitra Tertentu

Penulis: Said Fauzi  •  Jumat, 26 Juni 2026 | 22:35:01 WIB
Pemerintah AS membatasi akses GPT-5.6 hanya untuk mitra tertentu dengan izin kasus per kasus.

SUMATERA UTARA — Washington kembali memperketat pengawasan terhadap model kecerdasan buatan (AI) frontier. Setelah sebelumnya menjerat Anthropic, kini giliran OpenAI yang harus menahan rilis GPT-5.6 ke publik. Berdasarkan laporan The Information, keputusan ini diumumkan Altman dalam sesi Q&A internal bersama staf, Kamis pekan lalu.

Izin Kasus per Kasus, Pengguna Biasa Belum Bisa Mengakses

Saat ini, GPT-5.6 hanya bisa diakses oleh segelintir pelanggan yang telah diseleksi langsung oleh pemerintah AS. Altman menjelaskan dalam memo internal bahwa akses diberikan secara case-by-case, dan perusahaan berharap versi umum bisa dirilis dalam hitungan minggu.

Namun, Menteri Perdagangan Howard Lutnick disebut telah menelepon Altman untuk memperingatkan agar tidak merilis GPT-5.6 tanpa izin tertulis dari badan pemerintah. "Kami sudah sampaikan ke pemerintah bahwa ini bukan model jangka panjang yang kami inginkan," tulis Altman dalam memo Kamis itu. "Kami akan bekerja sama dengan mereka dan pelaku industri lain untuk mencapai pendekatan yang lebih berkelanjutan untuk rilis di masa depan."

Bukan Kali Pertama: Kasus Anthropic Claude Mythos Jadi Preseden

Ini bukan pertama kalinya laboratorium AI AS menunda rilis model canggih karena tekanan keamanan. Pada awal April lalu, Anthropic merilis Claude Mythos Preview hanya untuk institusi kunci sebagai persiapan sebelum rilis umum. Perusahaan kemudian meluncurkan Fable 5, versi ringan Mythos dengan pengaman tambahan, pada Juni 2026.

Alih-alih meredakan kekhawatiran, pemerintah AS justru memasukkan Fable 5 dan Mythos ke dalam daftar kontrol ekspor hanya tiga hari setelah peluncuran. Akibatnya, warga negara asing—termasuk karyawan Anthropic sendiri—dilarang mengakses model tersebut. Karena tidak bisa mematuhi aturan itu, Anthropic menarik total kedua model dari pasar.

Trump Berbalik Arah: Eksekutif Baru Minta Akses 30 Hari Sebelum Rilis

Ketegangan ini terjadi di tengah perubahan sikap Gedung Putih. Meski awalnya berjanji melonggarkan regulasi untuk mempercepat pengembangan AI, Presiden Donald Trump justru meneken perintah eksekutif awal bulan ini. Aturan baru itu mewajibkan laboratorium AI AS memberikan akses model terbaru kepada pemerintah 30 hari sebelum dirilis ke publik.

Langkah ini disebut sebagai upaya mencegah teknologi jatuh ke tangan yang salah, terutama di tengah persaingan dengan China. Meski AS telah menerapkan kontrol ekspor untuk memperlambat laju Beijing, banyak pemimpin industri meyakini China hanya masalah waktu sebelum menyusul.

Kritik dari Pakar: Intervensi Berlebihan Bisa Mematikan Ekosistem

Kebijakan ini menuai kritik dari kalangan pakar kebijakan AI. Neil Chilson, Kepala Kebijakan AI di Abundance Institute dan mantan Kepala Teknolog FTC, menyebut eskalasi intervensi pemerintah sebagai sesuatu yang mengkhawatirkan. "Ini mengerikan bagi ekosistem AI secara luas," tulisnya dalam blog pribadi.

"Penggunaan wewenang kontrol ekspor yang sewenang-wenang dan tanpa penjelasan akan membuat perusahaan memperlambat rilis model baru, menghilangkan akses publik terhadap alat-alat canggih. Setiap model AI, seperti semua perangkat lunak sebelumnya, pasti memiliki celah yang perlu ditambal. Pemerintah AS tidak boleh menggantungkan pedang Damocles di atas kepala setiap laboratorium, tanpa indikasi kapan akan jatuh atau mengapa," tambah Chilson.

Hingga berita ini diturunkan, OpenAI belum memberikan pernyataan resmi mengenai jadwal rilis GPT-5.6 secara global. Pengguna di Indonesia yang menantikan akses ke model AI terbaru ini masih harus bersabar menunggu keputusan selanjutnya dari Washington.

Reporter: Said Fauzi
Sumber: tomshardware.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top