BANDA ACEH — Konsul Jenderal Jepang di Medan, Furugori Toru, meresmikan dan menyerahkan bantuan alat berat pembersihan lahan di Sekolah Laboratorium Syiah Kuala, Rabu (1/6). Acara itu dihadiri Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK, Dr. Rina Suryani Oktari, Ketua Pembina Yayasan Sekolah Laboratorium Syiah Kuala, Prof. Dr. Ir. Marwan, serta Ketua Pelaksana Bidang Penanggulangan Bencana Aceh, Bahron Bakti.
Bantuan berupa empat unit ekskavator dan empat unit truk itu diharapkan mempercepat pemulihan lahan terdampak banjir di Aceh. Furugori menyebut bahwa alat berat ini akan menjadi bagian penting dalam respons bencana di masa depan.
Jepang telah lama terlibat dalam rekonstruksi Aceh pascagempa dan tsunami 2004. Program mencakup pembangunan perumahan, gedung sekolah, dan infrastruktur dasar. Komitmen itu berlanjut dengan peresmian Pusat Edukasi Tsunami di Meulaboh, Aceh Barat, pada Desember 2024.
"Bantuan hibah ini merupakan bentuk kerja sama, dukungan, dan kepedulian masyarakat Jepang kepada masyarakat Indonesia," ujar Furugori dalam sambutannya.
Program GGP dari Pemerintah Jepang menyasar kebutuhan dasar manusia di bidang kesehatan, sosial, pendidikan, dan lingkungan. Furugori berharap alat berat yang diserahkan dapat berkontribusi pada pemulihan secepat mungkin saat bencana alam terjadi di Provinsi Aceh.
Bantuan ini juga memperkuat hubungan persahabatan dan kerja sama Jepang-Indonesia ke depannya. Pemerintah Aceh melalui Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menyambut baik penyerahan alat berat ini sebagai tambahan kapasitas logistik penanganan darurat.