MEDAN — Di antara 22 organisasi perangkat daerah (OPD) Pemprov Sumut yang ikut meramaikan PRSU ke-50, stan UPT Taman Budaya menyuguhkan sesuatu yang berbeda. Bukan sekadar pameran, stan ini menjadi ruang perjumpaan antara tradisi dan inovasi ekonomi kreatif.
Pamong Budaya Ahli Pertama Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Sumut, Nadil, mengatakan keikutsertaan ini merupakan upaya memperkenalkan hasil karya seni anak muda kepada masyarakat luas. Produk unggulan yang ditampilkan antara lain hasil workshop Seni Rupa – Batik, tas sandang kekinian, dan topi unik berbahan tenun serta songket.
“Melalui PRSU kami ingin menunjukkan bahwa warisan budaya tidak hanya untuk dilestarikan, tetapi menguatkan produk kreatif bernilai tambah dan ekonomi bagi masyarakat,” ujar Nadil, Jumat (3/7/2026).
Salah satu perajin batik yang turut memamerkan karyanya, Mai Harahap, mengaku mulai menekuni seni membatik sejak duduk di bangku SMK di Lhokseumawe, Aceh, hingga berlanjut saat kuliah. Menurut Mai, membatik bukan sekadar hobi, melainkan bentuk nyata menjaga warisan budaya bangsa.
“Batik mengajarkan ketelitian, kesabaran, sekaligus kecintaan terhadap budaya. Generasi muda memiliki tanggung jawab untuk terus melestarikannya,” kata Mai.
Selain produk ekonomi kreatif, stan UPT Taman Budaya juga menghadirkan koleksi benda budaya dari UPT Museum Gedung Arca Sumatera Utara. Nadil menjelaskan, artefak yang dipamerkan memiliki nilai sejarah dan edukasi tinggi bagi pengunjung.
Beberapa koleksi yang menarik perhatian antara lain Pustaha Laklak, naskah kuno yang ditulis di atas kulit kayu dengan aksara Batak. Naskah ini hanya bisa ditulis oleh datu atau guru. Ada pula Tunggal Panaluan, tongkat ritual para datu bolon yang digunakan saat upacara religi.
Koleksi lainnya mencakup Bulu Parhalaan atau Kalender Batak untuk meramal hari baik, Kala Hati (alat pemotong pinang yang disebut Kacip di Melayu, Kala Kati di Karo dan Pakpak), serta Buli-Buli dari Pakpak yang dipakai menyimpan ramuan magis.
Tak ketinggalan, Pamungkor Unte untuk memeras jeruk yang airnya dianggap suci dalam ritual Batak Kuno, Perminaken (wadah minyak ramuan datu), Debata Idup (arca harapan keturunan), Kukuran Kelapa dari Nias, dan Gendang Melayu sebagai instrumen perkusi tradisional.
“Kehadiran koleksi artefak etnografi ini memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai kekayaan sejarah, tradisi, dan kearifan lokal yang dimiliki Sumatera Utara,” tegas Nadil.
Sebelumnya, Wakil Gubernur Sumatera Utara H. Surya BSc mewakili Gubernur Sumut secara resmi membuka PRSU ke-50 di Open Stage Tapian Daya. Mengusung tema “Harmoni Emas”, acara berlangsung mulai 3 Juli hingga 2 Agustus 2026.
Surya menegaskan PRSU tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga etalase pembangunan daerah melalui promosi produk unggulan UMKM, peluang investasi, serta destinasi wisata unggulan Sumut. Usai pembukaan, Surya bersama Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Sumut dan jajaran kepala OPD meninjau sejumlah paviliun untuk memastikan potensi daerah terpromosikan secara optimal.