MEDAN — Sebanyak 100 pemain kulcapi memecahkan Rekor Dunia MURI dalam sebuah pagelaran yang digelar di Kota Medan. Peristiwa ini menjadi panggung bagi alat musik tradisional khas masyarakat Karo yang selama ini jarang terdengar di tengah hiruk-pikuk musik modern.
Kulcapi adalah alat musik petik yang umumnya dibuat dari kayu dengan dua senar. Bentuknya menyerupai kecapi berukuran kecil, dihiasi ukiran khas pada bagian kepala dan badan. Suara yang dihasilkan lembut dan khas, biasa digunakan untuk mengiringi syair maupun pertunjukan seni tradisional.
Dalam tradisi Karo, kulcapi tidak dimainkan sendirian. Instrumen ini menjadi bagian dari ensambel musik tradisional bersama alat lain seperti keteng-keteng dan mangkok. Harmoni yang tercipta mengiringi berbagai pertunjukan adat hingga kesenian rakyat.
Fungsi kulcapi melampaui sekadar hiburan. Permainan musiknya kerap mengiringi penyampaian pesan, cerita rakyat, hingga nilai-nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun. Karena itu, keberadaannya dipandang sebagai identitas budaya masyarakat Karo.
Pelestarian kulcapi menghadapi tantangan besar. Regenerasi pemain dan perajin menjadi faktor kunci agar alat musik ini tetap dikenal generasi muda. Berbagai festival budaya, pertunjukan seni, dan kegiatan edukasi dinilai menjadi cara untuk menjaga keberlangsungan tradisi tersebut.
Pengakuan melalui Rekor Dunia MURI menjadi momentum untuk memperkenalkan kulcapi ke publik yang lebih luas. Namun, pelestarian budaya tidak berhenti pada pencatatan rekor. Keberlanjutan pembelajaran, pementasan, dan minat generasi muda untuk terus memainkan alat musik tradisional inilah yang akan menentukan masa depannya.