SUMATERA UTARA — Kemenangan Prancis atas Paraguay pada Senin (6/7/2026) diwarnai insiden di luar lapangan. Mbappe, yang menjadi pencetak satu-satunya gol lewat titik putih, harus menerima serangan bernada rasis dari Celeste Amarilla melalui media sosial.
Amarilla menghapus unggahannya setelah mendapat kecaman. Dalam cuitan yang sempat beredar, ia menyebut Mbappe sebagai "orang Kamerun yang terjajah dan mati-matian ingin dianggap orang Prancis". Tak hanya itu, politikus itu juga melabeli Mbappe sebagai "brute yang tak bisa menulis".
Serangan itu sontak memicu reaksi dari Federasi Sepak Bola Prancis (FFF). Mereka menyebut pernyataan Amarilla "sangat keji dan tak bisa diterima". FFF langsung mengumumkan akan melaporkan kasus ini ke kejaksaan untuk diproses secara pidana.
Mbappe merespons langsung cuitan tersebut. Lewat unggahan di media sosial, ia menulis: "Kau adalah perempuan hina dan tak layak menduduki jabatanmu. Kau tidak mewakili Paraguay."
Pemain berusia 27 tahun itu juga menyinggung perjuangan tim Paraguay. "Melalui keberanian dan rasismu yang tak tahu malu, seluruh dunia sudah melupakan perjuangan dan usaha bersejarah para pemainmu," tulis Mbappe. Ia menutup pernyataannya dengan tekad untuk tidak membiarkan orang seperti Amarilla menyebarkan kebencian dan rasisme.
Celeste Amarilla bukannya diam. Dalam konferensi pers, ia mengancam akan melaporkan balik FFF. "Jangan remehkan saya," ujarnya, menandakan sengketa hukum antara politikus Paraguay dan federasi sepak bola Prancis masih akan berlanjut.
Di sisi lain, Mbappe terus menegaskan posisinya sebagai ikon sepak bola global. Gol penalti ke gawang Paraguay menjadi gol ke-19-nya di pentas Piala Dunia. Ia nyaris mencetak gol ke-20 andai kiper Orlando Gill tidak melakukan penyelamatan ganda yang luar biasa.