MEDAN — Proses pengolahan gula merah di Sumatera Utara tidak berhenti pada tahap pencetakan. Setelah gula merah dicetak dan memiliki tekstur yang padat, tahap selanjutnya yang tak kalah penting adalah pengemasan. Proses ini memastikan produk siap untuk dijual dan didistribusikan ke konsumen.
Pengemasan yang baik menjadi faktor penentu dalam menjaga kualitas gula merah, terutama di tengah kondisi cuaca tropis yang lembap di Sumatera Utara. Kemasan yang rapat dan higienis mencegah gula merah menyerap uap air, yang bisa menyebabkan teksturnya menjadi lembek atau bahkan berjamur.
Bagi perajin gula merah di berbagai daerah seperti Deli Serdang, Langkat, atau Simalungun, pengemasan bukan sekadar bungkus. Ini adalah langkah untuk menambah nilai jual. Gula merah yang dikemas dengan baik biasanya memiliki harga lebih tinggi di pasaran dibandingkan yang dijual tanpa kemasan.
Proses pengemasan juga menjadi standar bagi distributor untuk memastikan produk sampai ke tangan konsumen dalam kondisi optimal. Di Sumatera Utara, gula merah kerap dijadikan bahan baku utama untuk kecap manis, bumbu masakan, hingga minuman tradisional.
Sebelum sampai ke tahap pengemasan, gula merah melalui proses panjang. Nira kelapa atau aren yang telah disadap dimasak dalam wajan besar hingga mengental. Setelah itu, adonan gula merah dicetak menggunakan cetakan bambu atau plastik hingga teksturnya mengeras dan padat.
Setelah tekstur padat tercapai dan gula merah dingin, barulah proses pembungkusan dilakukan. Beberapa perajin di Sumatera Utara kini mulai beralih menggunakan kemasan plastik vakum untuk memperpanjang masa simpan, sementara yang lain masih menggunakan plastik biasa atau daun pisang untuk pasar tradisional.
Dokumentasi dari Tanah Air Beta Trans TV (Ade) memperlihatkan aktivitas pengemasan gula merah yang dilakukan secara manual oleh para perajin, menunjukkan bahwa tradisi pembuatan gula merah di Sumatera Utara masih sangat kental dengan sentuhan tangan-tangan terampil.