DAIRI — Bupati Dairi Vickner Sinaga mengambil langkah luar biasa dengan terbang langsung ke Jakarta untuk menyampaikan kegelisahan warganya. Bukan proposal wisata atau investasi yang ia bawa, melainkan data kecelakaan di ruas jalan nasional sepanjang 14 kilometer yang terus menelan korban jiwa. Audiensi dengan Kementerian Perhubungan ini menjadi alarm bahwa infrastruktur dasar di daerah penyangga Danau Toba sudah dalam status darurat keselamatan.
Ruas jalan tersebut bukan akses kecil di pelosok. Ia merupakan jalur utama yang menghubungkan aktivitas ekonomi, mobilitas masyarakat, dan distribusi logistik di Dairi. Setiap hari, kendaraan pribadi, truk, dan bus melintas di atas aspal yang justru menjadi ancaman. Kecelakaan terjadi berulang, dan sebagian besar berakhir dengan kematian.
Yang dipertaruhkan di Kabupaten Dairi bukan sekadar aspal berlubang atau marka jalan yang memudar. Bukan pula proyek infrastruktur yang tertunda. Di ruas jalan nasional ini, nyawa manusia menjadi taruhan setiap kali kendaraan melintas.
“Jika sebuah jalan berkali-kali menelan korban jiwa, maka persoalannya tidak lagi bisa disebut insiden biasa. Ia sudah menjadi peringatan,” demikian narasi yang menggambarkan kegentingan situasi di Dairi. Peringatan bahwa ada sesuatu yang harus segera diperbaiki, karena jalan seharusnya menghubungkan kehidupan, bukan mengantarkan orang menuju kematian.
Dairi bukan daerah sembarangan. Wilayah ini menjadi salah satu penyangga Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Danau Toba. Setiap tahun, ribuan orang melintas menuju kawasan wisata yang menjadi wajah pariwisata Sumatera Utara. Sulit membayangkan sebuah destinasi kelas nasional bertumpu pada akses jalan yang justru menimbulkan kekhawatiran bagi penggunanya.
Bupati Vickner Sinaga menegaskan bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama. Pembangunan jalan pada akhirnya bukan soal beton dan aspal, melainkan soal manusia yang menggunakannya. Ukuran keberhasilan jalan sesungguhnya sederhana: apakah pengguna jalan pulang ke rumah dengan selamat?
Plh Direktur Lalu Lintas Jalan Ahmad Ardiansyah menyatakan kesiapan Kementerian Perhubungan untuk mendukung peningkatan keselamatan dan konektivitas transportasi di Dairi. Respons positif ini tentu memberi harapan bagi masyarakat yang selama ini hidup dalam kekhawatiran.
Namun, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar dukungan. Mereka membutuhkan tindakan nyata. Setiap hari yang berlalu berarti jalan itu tetap digunakan, dan risiko kecelakaan masih ada. Di Indonesia, sering kali sebuah jalan baru menjadi prioritas setelah memakan banyak korban, seolah nyawa harus menjadi syarat agar perbaikan dipercepat.
Permintaan Dairi sebenarnya sangat sederhana. Bukan meminta jalan tol, proyek mercusuar, atau fasilitas mewah. Mereka hanya meminta satu hal: jalan yang aman. Dalam negara yang mengutamakan keselamatan rakyatnya, permintaan seperti itu seharusnya tidak pernah dianggap berlebihan.
Karena setiap hari yang berlalu berarti ada keluarga lain yang berisiko kehilangan orang yang dicintai. Sebelum tragedi berikutnya terjadi, sebelum ada korban berikutnya, tindakan perbaikan harus segera diambil. (*)