MEDAN — Sumatera Utara kembali mempertahankan posisinya sebagai provinsi dengan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data resmi Kementerian Pertanian, harga TBS untuk tanaman berusia 10–20 tahun di wilayah ini mencapai Rp3.879,39 per kilogram pada periode 17–23 Juni 2026.
Angka tersebut melampaui catatan harga di provinsi sentra sawit lainnya. Di Sumatera Barat, harga TBS untuk kelompok umur yang sama tercatat Rp3.789,11 per kilogram. Sementara di Riau, harga TBS plasma menyentuh Rp3.765,20 per kilogram untuk usia 10–20 tahun dan Rp3.785,88 untuk tanaman sembilan tahun.
Perbaikan harga tidak hanya terjadi di Pulau Sumatra. Di Kalimantan Barat, harga TBS melonjak Rp264 per kilogram menjadi Rp3.446,65. Sumatera Selatan mencatat harga Rp3.704,99 per kilogram untuk periode 16–30 Juni 2026, sedangkan Jambi menetapkan harga mitra plasma di angka Rp3.706 per kilogram.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut tren ini sebagai hasil dari langkah cepat pemerintah bersama pemangku kepentingan. "Alhamdulillah, langkah bersama yang kita lakukan mulai menunjukkan hasil positif. Bahkan harganya ada yang melampaui harga sebelumnya. Ini sangat baik untuk kesejahteraan petani sawit," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (22/6/2026).
Kenaikan harga TBS ini sekaligus menjawab anomali yang terjadi beberapa waktu lalu. Saat harga minyak sawit mentah (CPO) global menguat, harga TBS di tingkat petani justru anjlok. Menanggapi situasi itu, Kementerian Pertanian menggelar tiga kali pertemuan intensif dengan asosiasi petani, perusahaan sawit, eksportir, dan aparat penegak hukum.
Pengawasan terhadap perusahaan yang tidak mematuhi ketentuan harga daerah kini diperketat. Mentan Amran menegaskan langkah ini sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga kesejahteraan petani. "Kita ingin industri sawit Indonesia tumbuh kuat, tetapi yang paling penting petani harus sejahtera. Tidak boleh ada pihak yang dirugikan," tegasnya.
Dengan harga di atas Rp3.800 per kilogram, pendapatan petani sawit di Sumatera Utara dipastikan meningkat signifikan. Kenaikan beruntun dalam beberapa pekan terakhir menjadi sinyal kuat pulihnya pasar sawit di wilayah utara Sumatra. Harga yang baik, menurut Mentan, akan memperkuat ekonomi daerah sentra sawit secara keseluruhan.
Pemerintah berkomitmen menjaga agar harga pembelian TBS di lapangan berjalan adil sesuai perkembangan pasar. Evaluasi tata niaga sawit disebut mulai membuahkan hasil nyata, mengakhiri tren penurunan yang sempat tidak sejalan dengan pergerakan harga CPO global.