Sumatera Utara bukan cuma Danau Toba dan kuliner khas. Di balik keragaman etnis—Batak Toba, Karo, Simalungun, Mandailing, Nias, hingga Melayu—tersimpan tradisi pernikahan adat yang tetap hidup di tengah modernisasi. Bagi warga lokal yang akan menikah atau perantau yang pulang kampung, memahami prosesi ini penting agar tidak salah langkah saat menjalani adat.
Setiap etnis punya aturan dan simbol yang berbeda. Tapi satu hal yang sama: pernikahan bukan sekadar urusan dua insan, melainkan penyatuan dua marga, dua keluarga besar, bahkan dua kampung. Berikut tujuh tradisi yang masih lestari hingga hari ini.
Mangulosi adalah prosesi pemberian kain ulos oleh orang tua dan keluarga inti kepada kedua mempelai. Ulos bukan sekadar kain, melainkan simbol restu, kasih sayang, dan perlindungan. Biasanya ulos yang diberikan adalah jenis ulos ragi hotang atau ulos mangiring.
Prosesi ini dilakukan di atas panggung, di hadapan seluruh undangan. Pemberian ulos disertai dengan kata-kata nasehat dari orang tua. Di adat Batak Toba, urutan pemberian ulos sangat ketat: dimulai dari orang tua mempelai wanita, lalu orang tua mempelai pria, kemudian keluarga terdekat.
Bagi yang baru pertama kali hadir, jangan kaget kalau proses ini bisa berlangsung 30-45 menit. Setiap pemberian ulos biasanya diiringi musik gondang dan tarian tor-tor.
Erpangir ku lau dilakukan sehari sebelum pesta pernikahan adat Karo. Mempelai pria dan wanita dimandikan dengan air yang dicampur jeruk purut, daun-daunan, dan bunga-bungaan. Tujuannya: membersihkan diri secara lahir dan batin sebelum memasuki hidup baru.
Ritual ini biasanya dipimpin oleh seorang guru (tetua adat) yang membacakan doa-doa. Lokasinya bisa di sungai, pancuran, atau di halaman rumah dengan air yang sudah disiapkan. Setelah dimandikan, mempelai dilarang keluar rumah sampai acara pesta dimulai.
Di beberapa kampung Karo di Tanah Karo, erpangir ku lau masih dijalankan dengan sangat sakral. Tidak jarang keluarga menyembelih ayam sebagai bagian dari ritual tolak bala.
Marhata sinamot adalah negosiasi adat antara pihak pria dan pihak wanita mengenai jumlah sinamot (mahar) yang harus diserahkan. Prosesi ini dilakukan sebelum hari pernikahan, biasanya di rumah pihak wanita. Kedua belah pihak diwakili oleh para tetua adat atau dongan tubu.
Uniknya, proses tawar-menawar ini dilakukan dengan bahasa yang halus dan penuh kiasan. Meski terlihat serius, suasananya tetap hangat dan penuh canda. Sinamot tidak melulu soal uang, bisa berupa tanah, hewan ternak, atau barang berharga lainnya—tergantung kesepakatan.
Di era sekarang, nominal sinamot seringkali sudah disepakati jauh-jauh hari. Tapi prosesi marhata sinamot tetap dilakukan sebagai formalitas adat yang wajib dijalani.
Mapparapa adalah tradisi makan bersama keluarga besar sehari sebelum akad nikah. Semua anggota keluarga berkumpul, duduk lesehan di lantai, dan menyantap hidangan yang dimasak bersama. Hidangan khas Mandailing seperti gulai itiak, sambal tuktuk, dan ikan sale jadi menu utama.
Tradisi ini bukan sekadar makan. Di dalamnya ada pesan kebersamaan dan gotong royong. Keluarga besar bahu-membahu menyiapkan pesta, mulai dari memasak hingga mendekorasi tempat. Biasanya mapparapa diiringi dengan musik tradisional dan pantun-pantun adat.
Bagi perantau Mandailing yang pulang kampung, mapparapa jadi momen yang paling dirindukan. Suasana hangat dan tawa keluarga besar sulit ditemukan di kota.
Menjapu-ngajapu adalah prosesi lamaran dalam adat Simalungun. Pihak pria datang ke rumah pihak wanita membawa sirih, pinang, dan gambir sebagai simbol penghormatan. Utusan pria menyampaikan maksud kedatangan dengan bahasa adat yang khas.
Pihak wanita tidak langsung menerima. Mereka akan berdiskusi dengan tetua adat untuk memastikan kesesuaian marga dan silsilah. Di adat Simalungun, pernikahan semarga (satu marga) sangat dilarang. Proses pengecekan silsilah ini bisa memakan waktu berhari-hari.
Setelah lamaran diterima, barulah dibahas soal mahar dan tanggal pernikahan. Semua dicatat dalam surat adat yang ditandatangani kedua belah pihak.
Faluaya adalah tradisi pernikahan massal yang dilakukan di Pulau Nias. Biasanya digelar setahun sekali di tempat-tempat tertentu, seperti di Kecamatan Hiliduho atau Gunungsitoli. Ratusan pasangan menikah dalam satu hari dengan biaya yang sudah disubsidi oleh pemerintah daerah atau donatur.
Tradisi ini berawal dari mahar pernikahan adat Nias yang sangat tinggi—bisa mencapai puluhan gram emas atau puluhan ekor babi. Akibatnya, banyak pemuda yang tidak mampu menikah. Faluaya hadir sebagai solusi dengan biaya yang jauh lebih ringan.
Prosesinya tetap mengikuti adat Nias: dimulai dengan fondrako (musyawarah adat), pemberian mas kawin simbolis, hingga pesta rakyat. Meski massal, sakralitasnya tidak berkurang.
Pernikahan adat Melayu di Sumatera Utara—terutama di daerah pesisir seperti Serdang Bedagai, Deli Serdang, dan Langkat—masih mempertahankan prosesi akad nikah yang kental dengan budaya pantun. Sebelum akad, pihak pria membawa seserahan berupa makanan khas, kain, dan perhiasan ke rumah pihak wanita.
Akad nikah biasanya dipimpin oleh penghulu atau imam kampung. Setelah ijab kabul, dilanjutkan dengan prosesi tepung tawar—menepuk tangan mempelai dengan tepung beras kuning sebagai simbol doa dan keselamatan. Suasana akad selalu meriah dengan alunan musik Melayu dan pantun bersambut.
Yang menarik, adat Melayu sangat menekankan sopan santun. Pakaian pengantin pria menggunakan teluk belanga, sementara wanita memakai baju kurung dengan kain songket. Warna kuning keemasan mendominasi sebagai simbol kebesaran.
Apa itu mangulosi dalam pernikahan Batak?
Mangulosi adalah prosesi pemberian kain ulos oleh orang tua dan keluarga kepada kedua mempelai sebagai simbol restu dan perlindungan.
Berapa lama prosesi pernikahan adat Batak biasanya berlangsung?
Rata-rata 4-6 jam untuk satu hari pesta, belum termasuk prosesi marhata sinamot yang bisa dilakukan sehari sebelumnya.
Apakah pernikahan adat Karo masih mewajibkan erpangir ku lau?
Masih, terutama di kampung-kampung di Tanah Karo. Di kota, ritual ini kadang disederhanakan tapi tetap dilakukan.
Kenapa mahar adat Nias sangat tinggi?
Mahar tinggi di adat Nias adalah simbol status sosial dan penghargaan kepada pihak wanita. Namun tradisi faluaya hadir untuk membantu pasangan yang kurang mampu.
Apakah adat Melayu Sumut sama dengan adat Melayu Riau?
Secara garis besar mirip, tapi ada perbedaan di seserahan dan jenis pantun yang digunakan. Setiap daerah punya kekhasan masing-masing.
Menjalani pernikahan adat Sumatera Utara memang butuh persiapan ekstra. Mulai dari koordinasi dengan tetua adat, menyiapkan perlengkapan ritual, hingga mengatur waktu acara. Tapi di balik kerumitannya, tradisi-tradisi ini adalah warisan yang menyatukan keluarga dan kampung. Bagi yang akan menikah, jangan ragu bertanya pada orang tua atau tetua adat setempat. Mereka biasanya akan dengan senang hati membimbing.