MEDAN — Ubi jalar selama ini dikenal sebagai “makanan super” bagi pelaku diet karena kandungan seratnya yang tinggi serta vitamin A, C, dan E. Dalam porsi sekitar 200 gram, ubi jalar menyediakan sekitar 240 kkal, yang dinilai cukup untuk pekerjaan ringan di kantor pada pagi hari, sekaligus memberikan rasa kenyang dan membantu menstabilkan gula darah.
Dr. Tu Ngu, Wakil Presiden dan Sekretaris Jenderal Asosiasi Gizi Vietnam, menganalisis bahwa kelemahan terbesar ubi jalar adalah kandungan lemaknya yang sangat rendah dan protein yang sangat sedikit. Padahal, sarapan yang sehat secara ilmiah minimal harus mengandung 300 kkal dan mencakup karbohidrat, protein, lemak, serta vitamin secara seimbang.
Dibandingkan dengan semangkuk bihun atau sepiring nasi yang kaya protein dan lipid dari daging, telur, serta kaldu tulang, ubi jalar kalah dalam menyediakan nutrisi untuk aktivitas fisik yang berat. Oleh karena itu, pekerja kasar atau atlet yang hanya mengonsumsi ubi jalar di pagi hari akan cepat merasa sesak napas dan lelah.
Yang lebih berbahaya, mempertahankan menu sarapan yang hanya terdiri dari ubi jalar setiap hari dalam upaya menurunkan berat badan akan mendorong tubuh ke dalam kondisi kekurangan gizi laten. Kekurangan protein dan lipid yang berkepanjangan dan parah dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, mengganggu fungsi endokrin, dan secara langsung memengaruhi regenerasi sel.
Alih-alih sepenuhnya menghilangkan makanan lain, ubi jalar tetap bisa menjadi bagian dari sarapan sehat. Caranya dengan menambahkan segelas susu segar, telur rebus, atau beberapa kacang-kacangan. Tambahan ini akan membantu mengontrol berat badan sekaligus memberikan energi yang cukup untuk hari kerja yang produktif tanpa khawatir kekurangan nutrisi.