SUMATERA UTARA — Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di Rp18.071 per dolar AS pada pukul 09.19 WIB, turun 0,02 persen dibandingkan penutupan perdagangan Rabu di Rp18.068. Sementara itu, data Yahoo Finance mencatat posisi berbeda, yakni Rp18.059 per dolar AS, atau menguat tipis satu poin.
Perbedaan acuan data ini lumrah terjadi karena perbedaan metode dan waktu pengambilan harga. Namun, secara umum, tekanan terhadap mata uang Garuda masih terasa di tengah sentimen perang yang kembali memanas di Timur Tengah.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada hari ini. Rentang pergerakan diperkirakan berada di Rp18.060 per dolar AS hingga Rp18.110 per dolar AS.
Menurut Ibrahim, sentimen utama yang membebani rupiah adalah keputusan Presiden AS Donald Trump memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap semua pelabuhan Iran. Iran membalas dengan menyerang infrastruktur AS di kawasan tersebut.
"Pada Rabu pagi, AS memulai serangkaian serangan baru untuk terus melemahkan kemampuan Iran yang digunakan untuk menyerang kapal dagang di Selat Hormuz. Teheran mengatakan telah kembali menutup selat tersebut," jelas Ibrahim.
Dari sisi eksternal lainnya, pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Data CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga pada Juli 2026 merosot menjadi 16 persen, dari sebelumnya 40 persen. Sementara peluang kenaikan pada September turun menjadi 60 persen dari 74 persen.
Penurunan ekspektasi ini dipicu oleh data inflasi produsen AS yang lebih rendah dari perkiraan. Pelemahan dolar AS seharusnya menjadi angin segar bagi rupiah, namun faktor geopolitik masih mendominasi sentimen pasar.
Di dalam negeri, beban rupiah juga datang dari kebutuhan pembiayaan utang pemerintah yang meningkat. Pelebaran defisit APBN 2026 mendorong pemerintah untuk menarik utang baru secara bruto yang diperkirakan mencapai sekitar Rp1.768 triliun tahun ini.
Ketergantungan pada utang sebagai sumber pembiayaan utama menjadi perhatian investor asing. Jika imbal hasil obligasi Indonesia tidak kompetitif atau risiko dianggap meningkat, aliran modal asing bisa keluar dan menekan rupiah lebih dalam.
Investasi mengandung risiko. Pergerakan nilai tukar sangat dipengaruhi oleh dinamika global dan kebijakan moneter domestik.