TAPANULI UTARA — Sebanyak 52.000 peserta didik dari kelas 2 SD hingga kelas 9 SMP di Tapanuli Utara mengikuti Asesmen Maretong, sebuah evaluasi kemampuan numerasi yang menjadi bagian dari program unggulan daerah TAPAMAJUMA. Pelaksanaan untuk jenjang SMP berlangsung Rabu (29/7/2026), disusul jenjang SD pada Kamis (30/7/2026).
Asesmen ini dirancang untuk memotret kemampuan awal berhitung siswa secara objektif. Wakil Bupati Deni Lumbantoruan menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar formalitas atau ajang mengejar nilai tinggi.
"Yang paling utama dan harus kita garis bawahi adalah integritas. Tidak ada gunanya membantu siswa menjawab soal demi terlihat keren," tegas Wabup Deni di hadapan kepala sekolah dan dewan guru.
Hasil asesmen akan diolah secara akuntabel dan diumumkan pada 7 Agustus 2026. Data tersebut akan menjadi pijakan bagi Dinas Pendidikan untuk mengevaluasi perkembangan pembelajaran setiap enam bulan sekali.
Dalam arahannya, Wabup Deni menyampaikan sejumlah kebijakan lanjutan. Salah satu komitmen utama adalah memangkas kesenjangan mutu antara sekolah di perkotaan dan pedesaan. Ia juga mendorong para guru untuk memanfaatkan teknologi digital dan kecerdasan buatan dalam metode pembelajaran berhitung yang interaktif.
Selain itu, ia meminta penguatan kebiasaan berhitung dan membaca secara konsisten di kelas selama 10–15 menit setiap hari, tidak hanya saat apel pagi. Langkah ini diharapkan membangun fondasi akademik yang lebih kuat sejak dini.
Kepala Dinas Pendidikan Freddy Advent Panjaitan menjelaskan, asesmen ini melibatkan sekitar 383 SD dan 80 SMP se-Kabupaten Tapanuli Utara. Sasaran siswa adalah kelas 2 hingga 6 untuk SD, dan kelas 7 hingga 9 untuk SMP.
Pemkab Taput berharap seluruh tenaga pendidik, kepala sekolah, dan orang tua bersinergi mengawal program TAPAMAJUMA. Hasil asesmen pada 7 Agustus mendatang akan menjadi pijakan berbasis data bagi perumusan kebijakan peningkatan mutu pembelajaran, sekaligus mendorong ekosistem kompetisi belajar yang jujur dan inovatif di Tapanuli Utara.