Pajak Federal AS Jadi Sorotan, Produser Eropa: Kami Tak Terancam

Penulis: Tengku Syafri  •  Rabu, 23 September 2026 | 19:18:31 WIB
Produser film Eropa menilai rencana kredit pajak federal AS tidak mengancam industri produksi Benua Biru.

SUMATERA UTARA — Produser film Eropa menilai rencana kredit pajak federal Amerika Serikat tidak akan mengancam pertumbuhan industri produksi Benua Biru. Topik itu mendominasi panel "Europe's Current Challenges and Opportunities" di Creative Investors' Conference, bagian dari San Sebastián Film Festival. Lorenzo de Maio dari De Maio Entertainment menyebut kebijakan tersebut justru bisa memperkuat ekosistem perfilman global.

Lorenzo de Maio, yang berbasis di Los Angeles meski berasal dari Italia, menyampaikan pandangannya di hadapan para investor dan pelaku industri yang hadir di San Sebastián. Ia menyebut rencana kredit pajak federal itu sebagai salah satu dari sedikit isu yang menyatukan Partai Republik dan Demokrat di Kongres.

Kredit Pajak Federal AS dan Posisi Eropa

Menurut De Maio, kredit pajak federal yang bisa ditumpuk dengan insentif negara bagian membuka peluang menarik bagi industri film AS. Alasannya, Negeri Paman Sam disebut telah kehilangan banyak kapasitas produksinya dalam beberapa tahun terakhir.

"Ada banyak kapasitas di dunia, jadi AS sedikit tertinggal, jujur saja," ujar De Maio dalam panel tersebut. Ia menambahkan bahwa kebijakan ini tidak kontroversial dan dapat membantu membangun kembali tenaga kerja kreatif yang sempat meninggalkan industri.

De Maio menegaskan dukungan terhadap sistem insentif akan melahirkan sineas, pencerita, perusahaan, dan peluang budaya baru. Ekosistem yang tumbuh, katanya, adalah sesuatu yang sempat hilang dari industri AS.

Ekuitas Swasta AS Masuk ke Pasar Eropa

Selain soal pajak, panel tersebut membahas meningkatnya ekuitas swasta asal AS yang mengisi kekosongan akibat turunnya pre-sales. De Maio menyebut sumber pendanaan baru itu memberi fleksibilitas bagi rumah produksi seperti Fremantle untuk memilih skema ekuitas atau utang sesuai kebutuhan proyek.

Pauline Lamy dari Why Not Productions mengamini hal serupa. Ia menyebut masuknya ekuitas AS ke pasar Eropa sebagai hal baru bagi perusahaannya, terutama karena banyak film Eropa sulit dijual di muka akibat kendala bahasa.

"Karena kami tidak bisa menjual banyak film di muka karena bahasanya, memiliki jenis uang itu sangat membantu kami membuat film dalam skala lebih besar," kata Lamy. Ia mencontohkan "Fjord" dan "Emilia Pérez" sebagai proyek yang tidak akan terwujud tanpa sistem pendanaan campuran tersebut.

Model Koproduksi dan DNA Proyek

Lamy menjelaskan model koproduksi "Emilia Pérez" yang melibatkan Rumania, Prancis, Norwegia, Swedia, Denmark, dan Finlandia terasa alami bagi proyek garapan Cristian Mungiu itu. Why Not Productions, menurutnya, adalah perusahaan sinema independen yang mengikuti visi sineas di sepanjang karier mereka.

Ia menegaskan pihaknya tidak akan memaksa sutradara membuat film dalam bahasa lain demi audiens lebih luas. Keputusan semacam itu, kata Lamy, bergantung pada proyek dan sutradaranya, bukan strategi perusahaan.

De Maio menambahkan sekitar 60 persen film Eropa hanya tayang di wilayah asalnya. Karena itu, memaksakan koproduksi yang tidak perlu untuk film yang pasarnya terbatas justru tidak masuk akal.

"Ini bukan soal menaklukkan pasar, tapi bagaimana kami menghormati DNA pasar itu," ujarnya. Ia memberi contoh "Maria" garapan Pablo Larraín sebagai koproduksi Chile-Italia yang terasa natural.

Strategi Menjangkau Penonton Muda

Ron Halpern dari StudioCanal menyoroti pentingnya memahami audiens sejak tahap awal pengembangan proyek. Ia menyebut ada penonton muda yang terbuka terhadap suara-suara otentik dari berbagai negara, sesuatu yang sulit dibayangkan lima atau sepuluh tahun lalu.

De Maio menyinggung "Obsession" dan "Backrooms" sebagai dua film yang mengubah cara Hollywood membicarakan distribusi. Keduanya dibawa oleh Curry Barker dan Kane Parsons yang sudah punya basis penggemar setia dari YouTube.

Ia memperkirakan sekitar 75 persen penonton "Obsession" berusia 18 hingga 34 tahun. Menurut De Maio, fenomena film horor berbasis IP YouTube itu menunjukkan pentingnya distributor membawa film langsung ke audiens yang sudah terbentuk.

Diskusi di San Sebastián menegaskan industri film Eropa kini bertumpu pada kombinasi insentif lokal, ekuitas internasional, dan pemahaman audiens yang matang sejak awal proyek.

Reporter: Tengku Syafri
Sumber: variety.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top