SUMATERA UTARA — Neon akhirnya mengakuisisi film Artificial karya Luca Guadagnino setelah Amazon MGM Studios memutuskan tidak merilisnya. Studio independen pimpinan Tom Quinn itu membayar tanpa uang muka, tetapi berkomitmen menggelontorkan dana pemasaran 15 juta dolar AS. Film tentang pendiri OpenAI ini dijadwalkan tayang perdana di New York Film Festival sebelum masuk bioskop pada Hari Natal.
Keputusan Amazon MGM Studios mundur dari proyek Artificial membuka jalan bagi Neon untuk mengambil alih distribusi. Kesepakatan itu terbilang tidak biasa karena Neon tidak membayar di muka, melainkan menanggung biaya promosi yang nilainya disebut mencapai 15 juta dolar AS.
Artificial sendiri digarap dengan anggaran produksi sekitar 40 juta dolar AS. Sebelum Neon masuk, sejumlah studio besar seperti Netflix, Searchlight, dan A24 sempat menyaksikan film ini lebih dulu. Reaksi mereka beragam, tetapi cenderung positif. Hanya Neon dan Mubi yang akhirnya bertahan, sementara yang lain memilih mundur.
Film ini mengangkat kisah kelahiran OpenAI dan dua pendirinya, Sam Altman serta Ilya Sutskever. Andrew Garfield memerankan Altman, sementara Yura Borisov yang dikenal lewat Anora memerankan Ilya. Naskahnya ditulis humoris dan alumnus Saturday Night Live, Simon Rich.
Cerita melacak perjalanan Ilya dan Sam dari dunia yang berbeda, bertemu, lalu bersekutu untuk mengubah dunia di bawah optimisme teknologi era Obama. Keduanya kemudian berselisih saat kemampuan teknologi mereka tumbuh besar dan berpotensi berbahaya pada era Trump dan Biden.
Beberapa adegan dan dialog dalam film yang berlatar tahun-tahun lampau disebut sangat relevan dengan berita teknologi terkini. Monica Barbaro tampil sebagai Mira Murati, CTO OpenAI, sementara Ike Barinholtz memerankan Elon Musk yang digambarkan sebagai lelucon orang super kaya.
Luca Guadagnino angkat bicara soal keputusan sejumlah studio yang menolak film ini. Ia menyebut konsep konflik kepentingan sebagai hal yang sangat penting dan menjadi gajah di ruangan. Menurutnya, begitu memahami sifat bisnis setiap perusahaan, keputusan mereka tidak lagi diambil secara netral.
"Once you understand the nature of every company's business, despite and beyond their love for the movie, you realize that some decisions are not the decisions they would've made in a vacuum," ujar Guadagnino kepada The Hollywood Reporter.
Ia menambahkan bahwa lanskap studio sedang berubah dan berurusan dengan kepentingan Silicon Valley. Guadagnino mencontohkan Citizen Kane karya Orson Welles yang menurutnya kemungkinan besar tidak bisa dibuat di iklim hari ini.
Amazon sendiri sebelumnya mengumumkan rencana investasi 50 miliar dolar AS di OpenAI beberapa bulan sebelum memutuskan menjual Artificial. Hubungan Guadagnino dengan Amazon disebut tetap baik. "They're family to me," katanya.
Andrew Garfield mengaku tidak mengetahui percakapan internal spesifik di perusahaan yang menolak Artificial. Meski begitu, ia sepakat dengan pandangan besar Guadagnino soal kebebasan berkarya.
"The fight is on to make sure that we are allowed to make things freely. The centralization of power that we're witnessing happen can have a very, very chilling effect on how art is being allowed to live," ujar Garfield.
Artificial dijadwalkan tayang perdana pada Senin malam di New York Film Festival. Neon lalu akan merilisnya di bioskop pada Hari Natal. Film ini digarap dengan pendekatan analog, direkam memakai format 35mm oleh sinematografer Malik Hassan Sayeed.
Guadagnino menyebut ia mendekati materi ini seperti kisah bergaya Medusa's Touch, dengan Ilya sebagai pintu masuk cerita. Naskah Simon Rich disebut lebih komedi dibanding hasil akhir film yang bernuansa gelap dan lucu sekaligus.
Kemunculan Artificial di tengah gencarnya perdebatan soal percepatan AI generatif membuat film ini terasa tepat waktu. Para pemimpin OpenAI dan perusahaan teknologi lain belakangan bersuara soal perlunya memperlambat pengembangan demi keamanan.