SUMATERA UTARA — CEO Danantara Rosan Roeslani memastikan sejumlah BUMN akan melantai di bursa saham tahun depan, dengan sektor finansial, infrastruktur, dan pertambangan masuk dalam kisi-kisi. Rencana ini menjadi salah satu langkah Danantara memperluas pengawasan publik terhadap kinerja perusahaan pelat merah.
Rosan menyampaikan hal itu di Hotel Raffles, Jakarta, Rabu (7/10/2026). Ia mengaku belum bisa menyebut nama perusahaan yang akan melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) karena proses identifikasi masih berjalan.
"Nanti ya. Kan kita lagi identifikasi nih, kita sedang memperhitungkan. Mungkin nanti di sebelum akhir tahun ini kita akan mengkonfirmasikan beberapa perusahaan yang kita sudah lihat mempunyai potensi, mempunyai appetite, dan juga mempunyai responsnya akan positif dari masyarakat, dari dunia usaha, dan juga baik dalam maupun luar negeri," ujar Rosan.
Meski enggan membocorkan nama, Rosan memberi gambaran soal sektor yang bakal diisi emiten baru dari kalangan BUMN. Ada tiga sektor yang disebutnya paling mungkin.
"Kisi-kisi, ada di sektor finansial tuh ada. Ada di sektor infrastrukturnya juga pasti ada, di sektor pertambangan juga ada," katanya.
Ketiga sektor itu selama ini memang menjadi tulang punggung portofolio BUMN. Di sektor finansial, ada sejumlah bank pelat merah yang belum seluruhnya tercatat di bursa. Sektor infrastruktur menampung perusahaan konstruksi dan operator jalan tol. Sementara pertambangan mencakup perusahaan tambang mineral dan batu bara yang sahamnya masih dipegang negara.
Rosan menempatkan IPO sebagai instrumen pengawasan, bukan sekadar cara mencari dana segar. Dengan menjadi perusahaan terbuka, BUMN akan dinilai pasar setiap saat, bukan hanya lewat laporan berkala ke pemerintah.
"Ini juga sebagai salah satu bentuk dari transparansi kita dalam rangka kita meningkatkan juga akuntabilitas kita. Karena kalau kita ada di bursa, yang kalau saya bilang kan jadi lebih banyak yang lihatin ya, baik itu bursa, baik OJK. Kalau berhubungan dengan finansial juga apa, bisa dari apa, pemangku kepentingan lainnya, masyarakat," terangnya.
Peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia disebut Rosan sebagai bagian dari lapisan pengawasan baru yang akan melekat pada BUMN setelah tercatat sebagai emiten. Pengawasan itu datang dari regulator, investor institusi, hingga masyarakat luas yang bisa membeli sahamnya.
Rosan menekankan pertumbuhan BUMN lewat jalur bursa tidak boleh berhenti pada angka valuasi. Ia ingin manfaatnya terasa langsung, baik dari sisi operasional maupun kontribusi perusahaan terhadap publik.
"Dan tentunya pertumbuhan dari BUMN-BUMN kita ini kita ingin juga dirasakan langsung oleh masyarakat, ya. Baik dari segi value-nya maupun dari segi operasional dan juga manfaatnya dari keberadaan BUMN itu sendiri," sambungnya.
Bagi masyarakat, IPO BUMN membuka akses kepemilikan saham perusahaan negara yang sebelumnya tertutup. Bagi investor, ini menambah pilihan emiten berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia. Sementara bagi pemerintah, pencatatan saham di bursa membuka ruang pendanaan yang lebih luas tanpa harus menambah beban utang negara.
Danantara menargetkan pengumuman resmi calon emiten dilakukan sebelum akhir tahun ini. Setelah itu, proses menuju penawaran saham perdana akan mengikuti tahapan yang ditetapkan OJK dan bursa, termasuk audit, penyusunan prospektus, hingga penentuan harga saham.