Tarif Impor Uni Eropa 45,3 Persen, Penjualan Mobil Listrik Bekas China Melonjak 280 Persen

Penulis: Said Fauzi  •  Jumat, 23 Oktober 2026 | 14:04:01 WIB
Penjualan mobil listrik bekas asal China di Uni Eropa mencapai 7.900 unit pada Januari–September 2026.

SUMATERA UTARA — Penjualan mobil listrik bekas asal China di Uni Eropa melesat 280 persen secara tahunan menjadi 7.900 unit pada Januari–September 2026. Lonjakan terjadi setelah Brussels menerapkan tarif impor hingga 45,3 persen untuk kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) baru, yang membuat konsumen beralih ke unit tangan kedua. Kendaraan bekas tidak dikenakan bea masuk tambahan maupun kuota impor.

Data China EV Marketplace (CEVM) menunjukkan transaksi mobil listrik bekas di pasar Eropa mencapai 7.900 unit sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Angka itu berbanding terbalik dengan penjualan BEV baru asal China yang justru merosot 44 persen pada periode yang sama.

Platform yang bermarkas di Shanghai tersebut kini menawarkan lebih dari 2.600 unit siap jual, mencakup merek Xiaomi, BYD, iCar, Denza, Lynk&Co, hingga Avatr.

Tarif 45,3 Persen dan Kuota PHEV 350.000 Unit

Regulasi Uni Eropa menetapkan bea masuk hingga 45,3 persen untuk kendaraan listrik berbasis baterai pada 2024. Aturan itu juga membatasi kuota impor kendaraan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) maksimal 350.000 unit.

Kategori bekas pakai terbebas sepenuhnya dari jeratan tarif tambahan maupun pembatasan kuota. Celah inilah yang dimanfaatkan konsumen untuk tetap memiliki kendaraan ramah lingkungan tanpa menanggung lonjakan harga.

"Tarif yang ada telah melemahkan permintaan terhadap BEV baru asal China di kalangan konsumen Eropa kami," kata COO CEVM, Jakub Gersl, Jumat (23/10/2026).

"Mobil bekas tidak dikenakan tarif tambahan maupun kuota baru, itulah sebabnya kami menjadikan kendaraan ini sebagai fokus utama bisnis," ujarnya.

Unit Nyaris Baru dengan Harga 40 Persen Lebih Murah

Tim perantara CEVM memantau pasar secara rutin dan menemukan banyak unit dengan kondisi mendekati baru. Mobil yang baru menempuh sekitar 6.000 kilometer bisa ditebus pembeli dengan harga 40 persen lebih murah dibanding harga resmi diler.

Penurunan harga itu tidak lepas dari perang harga di pasar domestik China. Persaingan ketat antarprodusen menekan banderol mobil baru, dan efeknya merembet ke harga unit bekas yang dijual ke luar negeri.

"Harga mobil baru yang lebih rendah akibat persaingan ketat di China turut menekan harga mobil bekas," papar Gersl.

Implikasi bagi Pasar Global

Pergeseran minat konsumen Eropa berpotensi mengubah peta perdagangan kendaraan listrik. Produsen China yang terhambat tarif di jalur unit baru kini punya jalur alternatif lewat kendaraan bekas.

Bagi konsumen, selisih harga puluhan persen menjadi daya tarik utama. Namun pembeli tetap perlu mencermati status garansi, riwayat servis, dan kesesuaian spesifikasi unit dengan regulasi teknis negara tujuan sebelum transaksi.

Reporter: Said Fauzi
Sumber: gonews.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top