SUMATERA UTARA — Investor asing membukukan jual bersih Rp 6,67 triliun di pasar saham Indonesia sepanjang perdagangan 19–23 Oktober 2026, naik hampir dua kali lipat dari Rp 3,19 triliun pada pekan sebelumnya. Tekanan jual itu berjalan berlawanan arah dengan Indeks Harga Saham Gabungan yang justru menguat 4,90% ke level 5.439,26.
Data statistik mingguan Bursa Efek Indonesia mencatat nilai transaksi jual saham oleh investor asing mencapai Rp 43,62 triliun, lebih tinggi dibandingkan nilai transaksi beli sebesar Rp 36,95 triliun. Selisih keduanya menjadi sumber angka jual bersih Rp 6,67 triliun tersebut.
Pekan sebelumnya, jual bersih asing berada di Rp 3,19 triliun. Artinya, tekanan jual bertambah sekitar Rp 3,48 triliun hanya dalam satu pekan.
Penguatan indeks tetap terjadi secara agregat. IHSG menutup pekan di 5.439,26, naik 254,15 poin dari penutupan pekan sebelumnya di 5.185,10. Sepanjang pekan, indeks sempat menyentuh level terendah 4.907,37 dan tertinggi 5.455,21.
Pola ini menunjukkan kenaikan indeks tidak lagi bergantung pada arus dana asing. Saham berkapitalisasi besar, terutama perbankan, menjadi penopang utama.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat nilai transaksi terbesar sepekan, yakni Rp 15,40 triliun atau 15,14% dari total nilai transaksi dalam daftar saham teratas BEI. Berikut rincian nilai transaksi saham paling likuid:
Besarnya nilai transaksi tidak otomatis berarti asing menjadi pembeli bersih. Angka tersebut merupakan aktivitas perdagangan keseluruhan, bukan perincian arus beli dan jual asing per saham.
Dari sisi volume, saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menempati posisi teratas dengan 40,40 miliar saham atau sekitar 20,22% dari total volume dalam daftar saham teraktif BEI. BUMI menyusul dengan 16,16 miliar saham, lalu BNBR 4,83 miliar saham, DEWA 4,26 miliar saham, dan BIPI 3,64 miliar saham.
BBRI dan BBCA juga masuk daftar volume terbesar, masing-masing 3,46 miliar dan 3,06 miliar saham. Dari frekuensi transaksi, BBRI memimpin dengan 455 ribu kali transaksi, disusul BBCA 441 ribu kali dan BMRI 294 ribu kali.
Data BEI menunjukkan BMRI menjadi kontributor terbesar kenaikan IHSG dengan sumbangan 40,65 poin setelah harganya menguat 15,04% sepekan. BBRI menyusul dengan kontribusi 39,76 poin seiring kenaikan harga 10,23%.
TLKM memberi tambahan 31,31 poin setelah naik 17,89%. BBNI menguat 15,15% dan ASII naik 8,59%, keduanya masuk daftar kontributor utama penguatan indeks.
Di sisi lain, BBCA menjadi penekan indeks dengan kontribusi negatif 13,66 poin setelah harganya turun 2,9%. MORA dan DCII juga tercatat sebagai pemberat IHSG.
Kombinasi jual bersih asing yang membesar dan indeks yang tetap naik menandakan permintaan domestik menyerap tekanan jual. Bagi pemegang saham perbankan besar, pekan tersebut menghasilkan penguatan harga signifikan meski arus asing keluar.
Yang perlu dicermati, kenaikan tajam BMRI, TLKM, dan BBNI dalam satu pekan membuka ruang koreksi teknikal. Investor jangka pendek sebaiknya mencermati apakah volume pembelian berlanjut pada pekan berikutnya atau justru mengendur setelah harga naik dua digit.