MEDAN — Ekonomi Sumatera Utara (Sumut) masih menunjukkan kinerja positif pada triwulan I 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut mencatat pertumbuhan mencapai 4,98 persen secara tahunan, meskipun ada tekanan dari konflik global di Timur Tengah.
Kepala BPS Sumut, Asim Saputra, menjelaskan bahwa struktur industri daerah yang didominasi sektor pertanian dan perkebunan menjadi salah satu faktor penahan gejolak. Ekspor Sumut yang bertumpu pada Amerika Serikat dan Tiongkok untuk komoditas lemak dan minyak nabati ikut diuntungkan oleh kenaikan harga CPO global akibat pelemahan rupiah.
Event Nasional-Internasional Dongkrak Perekonomian Warga
Asim menyoroti peran penyelenggaraan berbagai agenda besar sebagai motor penggerak ekonomi. Beberapa di antaranya adalah Piala AFF U-19 2026, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), Trail of The King by UTM 2026, dan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU).
“Banyaknya tamu yang datang akan membuka usaha-usaha dan pekerjaan baru. Seperti Trail of The King, Piala AFF,” ujar Asim dalam konferensi pers di Lobby Dekranasda, Kantor Gubernur Sumut, Selasa (9/6/2026).
Ia juga mengajak masyarakat untuk terus berbelanja produk UMKM guna memperkuat perekonomian daerah. Konsumsi rumah tangga disebut sebagai penopang utama pertumbuhan, dengan kontribusi lebih dari 51 persen.
Inflasi Mei 2026 Tercatat 4,35 Persen, Cabai dan Beras Jadi Penyumbang
Di sisi lain, Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Sumut, Poppy Marulita Hutagalung, melaporkan inflasi Sumut pada Mei 2026 mencapai 4,35 persen (yoy), naik dari posisi sebelumnya 2,92 persen. Komoditas utama penyumbang inflasi antara lain emas perhiasan (0,57%), tomat (0,29%), beras (0,24%), cabai merah (0,18%), dan ikan dencis (0,16%).
Dari delapan kota indeks harga konsumen (IHK), inflasi tertinggi terjadi di Gunungsitoli sebesar 5,35 persen, sementara terendah di Kabupaten Karo sebesar 3,98 persen. Poppy mengatakan pihaknya telah melakukan inspeksi mendadak ke pasar-pasar barometer untuk memantau harga.
Strategi 4K untuk Kendalikan Harga Pangan
Pemprov Sumut telah menyiapkan roadmap pengendalian inflasi melalui strategi 4K: Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif. Strategi ini dirancang untuk menjaga stabilitas harga sekaligus menekan gejolak komoditas pangan.
“Kita juga telah melakukan KSO untuk komoditas cabai merah dengan Kabupaten Karo. Namun tidak dipungkiri kerjasama bukan hanya komoditas cabai merah,” pungkas Poppy.