MEDAN — Secangkir kopi dan aroma sejarah memenuhi Kedai Kopi Deli di Jalan Dolok Sanggul, Rabu malam. Forum “Sembang-Sembang Tanah Deli” yang digagas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan sukses mengumpulkan 80 peserta dari beragam latar belakang untuk berdiskusi tentang masa depan budaya Melayu Deli.
Konsep “Tiga Tungku Sejerangan” dan Kehadiran Sultan Deli
Forum ini mengusung konsep “Tiga Tungku Sejerangan”, yang mempertemukan tiga pilar utama: pemerintah, masyarakat adat, dan warga. Sultan Deli Tuanku Mahmud Lamanjiji Perkasa Alam hadir langsung, memberikan bobot adat pada setiap diskusi yang mengalir santai ditemani kopi.
Pemerintah Kota Medan diwakili oleh Kepala Bidang Kebudayaan Ok Zulfani Anhar, yang membacakan pidato Wali Kota Rico Putra Bayu Waas. Pidato tersebut menegaskan bahwa kebudayaan bukan sekadar program seremonial, melainkan fondasi pembangunan kota.
Konsulat Malaysia Hadir: Budaya Melayu Lintas Batas
Nuansa forum semakin kaya dengan kehadiran Konsulat Malaysia Tuan Ridzuan Abdul Djalil. Kehadirannya menjadi sinyal bahwa budaya Melayu Deli bukanlah cerita lokal semata, melainkan warisan yang menyambungkan lintas negara. Tokoh Melayu, akademisi, dan komunitas budaya yang hadir membawa beragam sudut pandang, membuat diskusi mengalir dari sejarah Kesultanan hingga tantangan generasi digital.
Pesan yang sama muncul dari berbagai pihak: merawat budaya harus dilakukan secara lintas batas dan tanpa sekat.
Generasi Muda Jadi Sorotan: Kampus dan Kedai Kopi sebagai “Kelas Hidup”
Sorotan utama forum tertuju pada generasi muda. Prof. Ichwan Azhari dan Datin Dra. Iyes Hakim, yang bertindak sebagai narasumber, menegaskan bahwa identitas Melayu Deli akan bertahan jika anak muda tidak hanya menjadi penonton. Mereka mengajak kampus, komunitas, dan ruang publik seperti kedai kopi untuk dijadikan “kelas hidup” dalam mengenal pantun, adat, bahasa, dan nilai luhur Melayu.
Dialog interaktif yang terjadi membuktikan bahwa saat generasi tua dan muda ngobrol setara, ide pelestarian budaya menjadi lebih nyata dan aplikatif.
Menjaga Marwah Adalah Kerja Bersama
Menutup acara, moderator mengingatkan bahwa melestarikan budaya bukanlah kerja satu pihak. “Ini bukti menjaga marwah adalah kerja bersama kita semua,” katanya. Forum “Sembang-Sembang Tanah Deli” pun diharapkan tidak berhenti di satu malam. Dari secangkir kopi di Dolok Sanggul, dialog ini diharapkan terus bergulir menjadi agenda rutin yang menyambungkan istana, balai kota, dan rumah-rumah warga Medan.