SUMATERA UTARA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak volatil pada perdagangan sepekan ke depan dengan rentang 6.350–6.600. Aksi jual bersih pemodal asing senilai Rp 2,9 triliun dalam sepekan terakhir menekan indeks, yang ditutup melemah 0,33 persen ke 6.441 pada akhir pekan lalu.
Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai tekanan jual dari investor asing masih menjadi faktor utama yang membatasi ruang penguatan IHSG. Menurutnya, level 6.350–6.400 menjadi support penting yang harus dipertahankan, sementara 6.500–6.600 berperan sebagai resistance.
Rentang Pergerakan dan Sinyal Momentum
Hendra memperkirakan IHSG sepekan ke depan bergerak dalam rentang 6.350–6.600. Selama indeks mampu bertahan di atas 6.350, peluang technical rebound masih terbuka. Sebaliknya, penembusan level 6.600 akan menjadi sinyal positif bagi perubahan momentum pasar.
"Saya memperkirakan IHSG pekan depan bergerak dalam rentang 6.350–6.600, dengan area 6.350–6.400 sebagai support penting dan 6.500–6.600 sebagai resistance. Selama mampu bertahan di atas 6.350, peluang technical rebound masih terbuka, sedangkan penembusan 6.600 akan menjadi sinyal yang lebih positif bagi perubahan momentum," ujarnya kepada IDX Channel, Senin (21/9/2026).
Tekanan Jual Asing Capai Rp 2,9 Triliun
Data perdagangan menunjukkan pemodal asing mencatat net sell sebesar Rp 2,9 triliun sepanjang sepekan terakhir. Arus keluar dana asing tersebut membuat ruang penguatan pasar masih rawan terkikis aksi pelepasan posisi.
Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, IHSG tergelincir 0,33 persen ke posisi 6.441. Pelemahan terjadi di tengah penguatan mayoritas bursa saham kawasan Asia.
Faktor Domestik Lebih Dominan dari Sentimen Eksternal
Pergerakan IHSG yang berlawanan dengan bursa regional mengindikasikan sentimen penekan indeks tidak semata-mata bersumber dari dinamika eksternal. Faktor kehati-hatian pemodal di dalam negeri turut menahan laju indeks.
Kondisi tersebut membuat investor perlu lebih selektif dalam memilih saham. Fokus pada emiten dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi menjadi strategi yang lebih aman di tengah fase konsolidasi.
Strategi Selective Buying di Tengah Volatilitas
Fase konsolidasi dengan kecenderungan volatil membuka peluang bagi investor untuk melakukan selective buying. Pendekatan ini menekankan pemilihan saham berdasarkan kinerja fundamental dan prospek sektor, bukan sekadar mengikuti pergerakan indeks secara keseluruhan.
Investor disarankan mencermati level support dan resistance sebagai acuan pengambilan keputusan. Selama IHSG bertahan di atas 6.350, peluang rebound teknikal masih dapat dimanfaatkan dengan tetap memperhatikan manajemen risiko.