SUMATERA UTARA — PT Pertamina (Persero) memulai rangkaian pembinaan regional Pertamina UMK Academy 2026 lewat Subholding Downstream PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus pada Jumat (18/9). Sebanyak 217 pelaku usaha mikro dan kecil dari Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara yang lolos kurasi mengikuti kegiatan perdana bertema "Energi untuk UMK Maju" itu.
Pembinaan tahap regional program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina itu menyasar pelaku usaha dari beragam sektor, mulai dari makanan dan minuman, fesyen, kriya, hingga kecantikan dan perawatan tubuh. Peserta yang terpilih bukan datang tanpa seleksi: mereka lebih dulu melewati proses kurasi dan penyaringan sebelum dinyatakan layak ikut pendampingan.
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menyatakan perseroan tidak hanya menjalankan operasional bisnis sebagai perusahaan energi nasional, tetapi juga berkontribusi langsung pada kegiatan yang berdampak ke masyarakat melalui program TJSL.
"Melalui Pertamina UMK Academy 2026, kami memberikan dorongan sesuai semangat 'Energi untuk UMK Maju'. Penguatan dasar usaha dan pendampingan dari para akselerator diharapkan membantu UMK binaan semakin berdaya saing dan siap naik kelas," ujar Baron.
Apa Isi Pembinaan bagi Peserta
Peserta tidak hanya mendapat materi kelas. Rangkaian program mencakup pelatihan, tantangan bisnis, praktik pemasaran, coaching, penguatan legalitas dan sertifikasi, sampai fasilitasi akses pasar.
Kombinasi itu menyasar persoalan yang paling sering menghambat usaha kecil: kapasitas produksi terbatas, pemasaran yang belum tertata, dan legalitas usaha yang belum lengkap. Dengan pendampingan akselerator, peserta diarahkan memperbaiki fondasi usaha sebelum mengejar skala lebih besar.
Bagi pelaku usaha di Jatimbalinus, keikutsertaan dalam program ini membuka jalur yang lebih konkret untuk menembus pasar yang lebih luas — termasuk memanfaatkan jaringan Pertamina sebagai perusahaan energi nasional.
Enam Tahun Mendampingi Ribuan UMK
Pertamina UMK Academy pertama kali diinisiasi pada 2020 sebagai bagian dari program TJSL perseroan. Selama enam tahun berjalan, program ini diklaim telah mendampingi ribuan UMK.
Perjalanan program menunjukkan pola pembinaan yang berjenjang: dari pelatihan dasar, peserta didorong mengikuti tantangan bisnis, praktik pemasaran langsung, hingga penguatan legalitas dan sertifikasi. Fasilitasi akses pasar menjadi tahap akhir yang menentukan apakah sebuah usaha kecil benar-benar bisa naik kelas.
Pendekatan itu sejalan dengan kewajiban TJSL yang melekat pada badan usaha milik negara, di mana kontribusi sosial diarahkan agar berkelanjutan dan terukur, bukan sekadar bantuan sesaat.
Mengapa Program Ini Penting
Usaha mikro dan kecil menopang sebagian besar lapangan kerja di Indonesia, tetapi sering terkendala akses pembinaan dan pasar. Program semacam ini menyediakan jembatan antara kebutuhan pelaku usaha dan sumber daya yang dimiliki perusahaan besar.
Bagi Pertamina, pembinaan UMK juga menjadi cara memperkuat rantai pasok lokal di wilayah operasi, termasuk di kawasan timur Jawa dan Bali. Peserta yang lulus pembinaan berpeluang menjadi mitra usaha yang lebih siap secara administrasi dan kualitas produk.
Rangkaian regional Jatimbalinus menandai dimulainya tahap pembinaan tahun ini. Wilayah lain diperkirakan menyusul dengan skema seleksi serupa, meski jadwal dan jumlah pesertanya belum diumumkan.
Bagi 217 peserta yang lolos tahap awal, hasil akhir program akan terlihat dari kemampuan mereka mempertahankan standar usaha setelah pendampingan berakhir — bukan hanya dari sertifikat yang diterima.