SUMATERA UTARA — Investor asing masih terus melepas saham Indonesia hingga pertengahan Oktober 2026 dengan nilai jual mencapai Rp111,18 triliun secara year-to-date di pasar reguler. Macquarie Capital menilai aksi keluar ini belum akan berhenti selama stabilitas kebijakan domestik dan kredibilitas fiskal belum meyakinkan pasar.
Data perdagangan menunjukkan posisi jual investor asing menembus Rp111,18 triliun secara year-to-date di pasar reguler per 13 Oktober 2026. Dalam sebulan terakhir saja, aksi lepas saham mencapai Rp12,76 triliun.
Kepala Riset Macquarie Capital Indonesia Ari Jahja menyebut investor asing masih dalam mode wait and see terhadap bursa saham Indonesia. Dua faktor utama yang menahan mereka masuk kembali adalah arah kebijakan domestik dan kredibilitas pengelolaan fiskal.
Harga Minyak Naik, Tekanan Fiskal Ikut Menguat
Penguatan harga minyak mentah dunia belakangan ini menambah beban bagi pengelolaan fiskal Indonesia. Sebagai negara net importir minyak, kenaikan harga komoditas energi ini berpotensi melebarkan defisit anggaran dan menekan nilai tukar rupiah.
Kondisi tersebut membuat investor asing enggan menambah eksposur ke aset berisiko Indonesia. Mereka memilih menunggu sinyal yang lebih jelas dari pemerintah sebelum kembali masuk ke pasar saham domestik.
Stabilitas Kebijakan Jadi Syarat Utama Revaluasi Pasar
Ari menegaskan peluang revaluasi indeks komposit saat ini masih tertahan. Menurutnya, investor asing memiliki tiga syarat sebelum pasar Indonesia bisa dinilai ulang secara berkelanjutan.
"Investor asing menginginkan stabilitas kebijakan yang lebih baik, pelaksanaan kebijakan yang lebih kuat, serta kredibilitas fiskal sebelum revaluasi pasar yang berkelanjutan dapat terjadi," kata Ari saat dihubungi, Selasa (13/10/2026).
Pernyataan tersebut menyiratkan bahwa perbaikan fundamental ekonomi saja tidak cukup. Pasar juga menuntut konsistensi pemerintah dalam menjalankan kebijakan yang sudah dicanangkan, termasuk di bidang fiskal dan moneter.
Apa Artinya bagi Investor Domestik
Aliran dana asing yang keluar berpotensi menekan indeks harga saham gabungan dalam jangka pendek. Saham-saham berkapitalisasi besar yang biasanya menjadi favorit asing, seperti perbankan dan konsumer, paling rentan terkena dampaknya.
Meski demikian, aksi jual asing tidak selalu berarti pasar domestik kehilangan daya tarik. Investor ritel dan institusi lokal masih bisa menjadi penopang, terutama jika valuasi saham sudah masuk kategori murah.
Yang perlu dicermati adalah durasi keluarnya dana asing. Semakin lama mereka menahan posisi di luar pasar Indonesia, semakin besar tekanan yang harus diserap investor domestik.
Yang Perlu Dicermati ke Depan
Pasar akan menanti sinyal konkret dari pemerintah soal arah kebijakan fiskal dan stabilitas regulasi. Perbaikan kredibilitas di dua area itu menjadi kunci untuk memancing kembali masuknya dana asing.
Selama syarat tersebut belum terpenuhi, pola net sell asing berpotensi berlanjut. Investor domestik disarankan mencermati perkembangan kebijakan dan data makroekonomi sebelum mengambil posisi agresif di pasar saham.