SUMATERA UTARA — Harga emas bertahan di kisaran US$4.170 per troy ounce setelah naik 1,6% pada Kamis, kenaikan terbesar dalam lebih dari dua pekan. Pelaku pasar memangkas peluang kenaikan suku bunga The Fed menjadi sekitar 15% dari sebelumnya 33%, menyusul pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Bangkok.
Pergerakan emas batangan sepanjang sesi berlangsung tipis. Logam mulia sempat berbalik melemah di sebagian perdagangan AS seiring kenaikan imbal hasil US Treasury bertenaga panjang, sebelum kembali stabil di kisaran US$4.170 per troy ounce.
Tekanan datang dari sisi lain: harga minyak mentah Brent menyentuh US$110 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei. Lonjakan minyak mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS naik, yang biasanya menjadi hambatan bagi aset tanpa bunga seperti emas.
Peluang Kenaikan Bunga The Fed Turun ke 15%
Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin berubah signifikan. Sebelum pidato Warsh, pelaku pasar memberi peluang sekitar satu banding tiga atau 33%. Kini angka itu menyusut menjadi sekitar 15%.
Pidato Warsh di Bangkok tidak mengubah pandangan bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada akhir bulan ini. Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa The Fed belum terburu-buru mengetatkan kebijakan moneter.
Bagi emas, suku bunga yang lebih tinggi memang menjadi tekanan karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga. Setiap penundaan kenaikan bunga secara langsung mengurangi opportunity cost memegang emas dibandingkan obligasi.
Imbal Hasil Treasury dan Minyak Jadi Penentu Arah
Dua faktor masih menarik harga emas ke dua arah berlawanan. Di satu sisi, meredanya taruhan kenaikan bunga memberi ruang bagi emas untuk bertahan di level tinggi. Di sisi lain, imbal hasil US Treasury tenor panjang yang naik membatasi penguatan lebih lanjut.
Kenaikan Brent ke US$110 per barel menambah dimensi baru. Harga energi yang tinggi berpotensi menahan laju inflasi turun, yang pada gilirannya bisa memaksa The Fed mempertahankan sikap ketat lebih lama dari perkiraan pasar.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa emas belum mampu menembus level baru meski mendapat dorongan dari ekspektasi suku bunga. Pasar tampak menunggu konfirmasi arah kebijakan The Fed pada pertemuan akhir bulan ini.
Apa Artinya bagi Investor Emas
Kenaikan 1,6% pada Kamis menjadi kenaikan terbesar dalam lebih dari dua pekan, menandakan minat beli masih muncul setiap kali harga turun. Level US$4.170 per troy ounce kini menjadi titik acuan jangka pendek.
Investor yang memegang emas perlu mencermati dua variabel: perkembangan harga minyak dan retorika pejabat The Fed menjelang rapat akhir bulan. Selama peluang kenaikan bunga bertahan di bawah 20%, tekanan terhadap emas cenderung terbatas.
Sebaliknya, jika data inflasi atau pernyataan pejabat The Fed kembali memperkuat ekspektasi pengetatan, emas berisiko menguji level support di bawah kisaran saat ini. Pasar emas dalam beberapa pekan ke depan akan bergerak berdasarkan selisih antara dua taruhan tersebut.