SUMATERA UTARA — Sekitar 5 persen anak yang terkena influenza harus dirawat di rumah sakit, dan 80 persen di antaranya berusia di bawah 2 tahun. Pakar IDAI membeberkan alasan anak lebih rentan mengalami flu bergejala berat, mulai dari sistem imun yang belum matang hingga kebiasaan di daycare.
Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof Dr dr Anggraini Alam, SpA, Subsp IPT(K), menegaskan influenza tipe A maupun B bisa menyerang siapa saja. Namun risiko gejala berat jauh lebih tinggi pada anak-anak dibandingkan kelompok usia lain.
"Siapa saja yang bisa terkena influenza baik A maupun B itu semuanya, tetapi yang berisiko untuk mengalami berat ada anak, lansia, ibu hamil, serta yang punya komorbid," kata dr Anggraini dalam media briefing, Jumat (18/9/2026).
Data yang dipaparkan dr Anggraini menunjukkan sekitar 5 persen anak yang mengalami influenza memerlukan perawatan di rumah sakit. Dari jumlah tersebut, sekitar 80 persen berusia di bawah 2 tahun.
Yang lebih mengkhawatirkan, separuh dari anak yang dirawat inap merupakan bayi berusia kurang dari 6 bulan. Kelompok usia ini memang belum punya perlindungan imun yang cukup untuk melawan virus flu.
"Sehingga tidak heran balita kemudian yang memiliki komorbid terutama neurologi atau yang butuh perawatan lama, atau anak-anak yang di daycare karena padat termasuk juga di area padat itu berisiko untuk terinfeksi oleh influenza," ujarnya.
Anak usia 0-17 tahun disebut dua kali lebih mungkin mengalami infeksi flu bergejala dibandingkan orang dewasa. Salah satu penyebab utamanya adalah sistem kekebalan tubuh anak yang masih berkembang.
Anak-anak belum memiliki banyak pengalaman menghadapi berbagai jenis virus. Akibatnya, tubuh mereka belum membentuk memori imun yang cukup untuk melawan infeksi influenza secara efektif.
Anak yang terinfeksi influenza juga dapat mengeluarkan virus dalam waktu lebih lama. Kondisi ini meningkatkan risiko penularan ke anggota keluarga lain di rumah.
Bahkan, anak bisa menularkan virus flu lebih dari satu hari sebelum gejala muncul. Artinya, si kecil bisa jadi sumber penularan tanpa orang tua menyadarinya.
"Jangan heran bila mana seorang anak yang masih tingginya itu kan di bawah dewasa, mereka lah yang kalau kita bicara, kita bersin, kita batuk, menghirup semua partikel-partikel halus sehingga mereka lah yang tertular," jelas dr Anggraini.
Menurut dr Anggraini, pola penyebaran virus pada anak mirip dengan yang terjadi pada pasien dengan sistem kekebalan tubuh terganggu atau immunocompromised. Keduanya sama-sama menyebarkan virus lebih lama.
"Nah tetapi anak pulalah bila mana dia terinfeksi sama dengan pasien immunocompromised akan menyebarkan virusnya lebih lama," pungkasnya.
Balita dengan komorbid, terutama gangguan neurologi, atau anak yang butuh perawatan jangka panjang masuk kelompok paling berisiko. Anak yang rutin berada di daycare atau lingkungan padat juga perlu perhatian ekstra.
Jika si kecil menunjukkan gejala flu yang memburuk, sulit bernapas, atau lemas berlebihan, segera konsultasikan ke dokter anak. Jangan tunda, terutama bila usianya masih di bawah 2 tahun.
Memahami kenapa anak lebih rentan terkena influenza membantu ibu mengambil langkah pencegahan yang tepat. Jaga kebersihan tangan, batasi kontak dengan orang sakit, dan pastikan si kecil mendapat istirahat cukup saat mulai menunjukkan gejala.