JAKARTA — Pergerakan IHSG masih belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang meyakinkan. Data perdagangan mencatat hanya 75 saham yang berhasil menguat, sementara 158 saham lainnya bergerak stagnan. Total volume saham yang diperdagangkan mencapai 36,2 miliar lembar dengan frekuensi transaksi sebanyak 2,72 juta kali.
Koreksi terdalam terjadi di jajaran emiten pertambangan. Selain AMMN, saham PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) turun 12,12 persen menjadi Rp2.320, disusul PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) yang melemah 11,98 persen ke level Rp294. PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) juga tak luput dari tekanan, terkoreksi 11,82 persen ke Rp2.610, dan PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) merosot 10 persen ke posisi Rp1.305.
MNC Sekuritas memproyeksikan level support IHSG berada di area 5.261 dan 5.191. Sementara itu, level resistance diperkirakan berada pada kisaran 5.462 hingga 5.594. Di tengah tekanan ini, analis MNC Sekuritas justru merekomendasikan strategi buy on weakness untuk empat saham: PT Astra International Tbk. (ASII), PT Buana Listya Tama Tbk. (BULL), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA), dan PT PAM Mineral Tbk. (NICL).
Pendapat berbeda datang dari Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, Hari Rachmansyah. Ia menilai struktur teknikal IHSG masih menunjukkan tren menurun dan belum memberikan sinyal pembalikan arah (reversal) yang kuat.
"Bagi investor jangka menengah, kondisi saat ini dapat dimanfaatkan untuk mulai mencermati saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan dan consumer staples yang valuasinya sudah cukup menarik secara historis. Namun, akumulasi sebaiknya dilakukan secara bertahap dengan porsi terbatas sambil menunggu kejelasan arah kebijakan moneter Bank Indonesia," ujarnya.
Hari menambahkan, investor sebaiknya lebih fokus pada perlindungan modal dengan mengurangi eksposur terhadap saham berkapitalisasi kecil dan menengah yang memiliki likuiditas rendah.
Pelaku pasar masih mencermati sejumlah sentimen yang memengaruhi pergerakan pasar domestik, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah, arus modal asing, serta perkembangan kondisi ekonomi global yang masih diliputi ketidakpastian. Para analis menyarankan investor untuk tetap berhati-hati dan tidak terburu-buru mengambil keputusan di tengah volatilitas yang masih tinggi.
Disclaimer: Informasi ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Setiap keputusan investasi merupakan tanggung jawab masing-masing investor.