SUMATERA UTARA — Kenaikan harga Pertamax sebesar 32 persen ini menjadi penyesuaian terbesar dalam beberapa tahun terakhir. VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, menjelaskan bahwa perusahaan selama ini menahan harga jual di tengah gejolak geopolitik global yang memicu lonjakan harga minyak mentah.
Sigit mengungkapkan, harga asli BBM dengan Research Octane Number (RON) 92 di pasar internasional saat ini berkisar Rp 20.000 hingga Rp 21.000 per liter. “Kita masih tahan, masih berupaya menahan di Rp 12.300,” ujarnya dalam pernyataan yang dikutip dari CNBC Indonesia.
Penahanan harga dalam waktu lama membuat Pertamina menanggung kerugian besar pada produk nonsubsidi. Perusahaan khawatir ketersediaan energi di masyarakat justru menurun jika terus mempertahankan harga di bawah biaya produksi.
Dibandingkan negara tetangga, harga Pertamax saat ini berada di posisi menengah. Di Malaysia, BBM RON 95 bersubsidi hanya Rp 8.796 per liter, sementara versi nonsubsidi mencapai Rp 16.444. Thailand membanderol RON 91 seharga Rp 23.327 per liter.
Filipina menjadi yang termahal dengan bensin RON 91 mencapai Rp 26.430 per liter dan RON 95 di angka Rp 28.335. Sementara Vietnam justru lebih murah dari Pertamax, dengan RON 92 setara dijual sekitar Rp 14 ribuan per liter.
Pertamax merupakan BBM nonsubsidi yang harga jualnya ditentukan oleh fluktuasi harga minyak mentah dunia. Penyesuaian harga terbaru ini dilakukan setelah Pertamina berkoordinasi dengan pemerintah. “Kami ingin memberikan message bahwa ini memang perlu naik kepada konsumen karena kondisinya harus kami pastikan terkait ketersediaan suplai di pasar,” tegas Sigit.
Kenaikan ini menjadi perhatian bagi pengguna kendaraan bermotor di Indonesia, terutama pemilik motor dan mobil yang selama ini mengandalkan Pertamax sebagai bahan bakar harian. Dengan selisih harga yang semakin lebar dari Pertalite RON 90, banyak konsumen diperkirakan akan beralih ke opsi bahan bakar yang lebih terjangkau.