Para pelari memulai perjalanan dari Water Front City Pangururan, melintasi Paraduan, Ronggur Nihuta, Huta Tinggi, dan Sitao-tao. Jalur perlombaan memasuki kawasan sakral Pusuk Buhit, melewati Pusat Informasi Geopark, kompleks SMA Negeri 1 Sianjur Mulamula, Ginolat, Bonan Dolok, hingga Bukit Burung. Seluruh peserta kembali finis di titik start.
Sepanjang rute, peserta disuguhi pemandangan perbukitan hijau, panorama Danau Toba dari ketinggian, jalur hutan alami, serta pemukiman warga Batak yang masih mempertahankan adat istiadat leluhur. Panitia menetapkan batas waktu 30 jam bagi seluruh pelari untuk mencapai garis akhir.
Gubernur Sumut Bobby Afif Nasution menyambut antusias peningkatan jumlah peserta mancanegara. Pada edisi pertama, TOTK diikuti pelari dari 27 negara. Tahun ini, angka itu bertambah menjadi 34 negara.
"Acara ini sangat bagus untuk mengenalkan pariwisata Danau Toba ke dunia luar," ujar Bobby usai pelepasan peserta.
Bupati Samosir Vandiko T. Gultom menambahkan, kedatangan ribuan pelari beserta tim pendamping memberikan dampak positif bagi perekonomian warga. Sektor hotel, warung makan, angkutan, dan produk UMKM lokal menikmati peningkatan omzet selama ajang berlangsung.
Acara pelepasan turut dihadiri Wakil Bupati Samosir Ariston Tua Sidauruk, Dandim 0210/TU Letkol Inf Ronald Tampubolon, Kapolres Samosir AKBP Rina SN. Tarigan, Kepala Dinas Pariwisata Sumut Yudha Pratiwi Setiawan, Kepala Dinas Pariwisata Samosir Tetty Naibaho, dan Kepala Dinas Kominfo Samosir Immanuel Sitanggang.
Kesiapan fisik, strategi, serta kemampuan beradaptasi dengan medan berbukit menjadi kunci utama bagi pelari untuk memenangkan perlombaan yang kini namanya kian dikenal di kancah global.