MEDAN — Investor di Sumatera Utara, khususnya yang aktif bertransaksi di bursa efek Medan, mengambil posisi wait and see pada perdagangan hari ini. Sikap ini dipicu dua agenda besar yang menjadi penentu arah pasar domestik jangka pendek: hasil Global Market Accessibility Review MSCI serta keputusan suku bunga Federal Reserve dan Bank Indonesia.
Investment Analyst Lead Stockbit Group, Edi Chandren, menyebut dua isu utama menjadi perhatian pelaku pasar. Pertama, kepastian soal pencabutan pembekuan indeks MSCI terhadap saham-saham Indonesia. Kedua, status Indonesia sebagai pasar berkembang (emerging market) yang akan dievaluasi dalam peninjauan tersebut.
"Skenario paling positif bagi pasar adalah apabila MSCI mencabut pembekuan indeks atau setidaknya memberikan sinyal kuat ke arah tersebut," ujar Edi. Langkah itu, menurutnya, bisa memperkuat keyakinan investor bahwa Indonesia masih layak mempertahankan status emerging market-nya.
Tekanan pada IHSG terutama berasal dari aksi ambil untung di sejumlah saham berkapitalisasi besar. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi yang paling terpukul, ambles 12 persen ke level Rp3.740. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) juga turun 5 persen menjadi Rp1.995, sementara PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) terkoreksi 4,91 persen ke Rp775.
Tak hanya itu, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) melemah 1,59 persen ke Rp3.720, dan PT Astra International Tbk (ASII) turun 1,84 persen menjadi Rp4.800. Sementara itu, saham perbankan ikut tertekan dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang melemah 0,22 persen ke Rp4.490.
Fokus utama investor saat ini tertuju pada pengumuman Global Market Accessibility Review MSCI yang dijadwalkan rilis pada 18 Juni 2026 waktu Eropa, atau dini hari 19 Juni 2026 waktu Indonesia. Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pergerakan IHSG masih dibayangi sentimen menunggu (wait and see) investor terhadap agenda-agenda tersebut.
Selain hasil review MSCI, pasar mencermati keputusan suku bunga dari Federal Reserve dan Bank Indonesia yang berpotensi memengaruhi aliran dana asing ke pasar domestik. Kepastian dari dua lembaga ini akan menjadi katalis bagi pergerakan IHSG ke depan, termasuk bagi investor ritel di Sumut yang mulai merasakan dampak volatilitas pasar modal nasional.