163 Desainer UMKM Sumut Tampilkan 521 Koleksi Wastra Modern di Medan Fashion Trend 2026, dari Ulos hingga Songket

Penulis: Said Fauzi  •  Sabtu, 25 Juli 2026 | 13:37:01 WIB

MEDAN — Motif-motif khas Sumatera Utara yang selama ini lekat dengan upacara adat kini diadaptasi menjadi busana kasual hingga semi-formal. Dalam Medan Fashion Trend 2026, ulos yang biasanya dikenakan sebagai selendang atau kain panjang disulap menjadi outer, atasan modern, bahkan gaun pesta. Songket dan tenun lokal juga dipadukan dengan bahan katun, denim, dan sifon, menciptakan tekstur baru yang tetap mempertahankan ciri khas daerah.

Motif Tradisional, Siluet Kontemporer

Para desainer UMKM tidak sekadar memotong dan menjahit kain warisan. Mereka mengeksplorasi ulang motif—seperti gorga, pantang, dan bintang maratur—dengan teknik rekonstruksi pola, pencampuran warna berani, serta penambahan detail seperti bordir dan payet. Hasilnya, 521 looks yang diperagakan di atas catwalk tidak lagi terkesan kaku, melainkan mengikuti tren fesyen global: potongan oversized, asimetris, dan layering.

Pada sesi pembuka, 15 looks khusus ditampilkan untuk merepresentasikan keberagaman wastra Sumut. Dua desainer nasional, Deden Siswanto dan Gregorius Vici, turut ambil bagian berkolaborasi dengan pengrajin lokal. Koleksi mereka menjadi jembatan antara pasar premium dan industri rumahan.

Lenny Agustin: Ruang Kolaborasi untuk Nilai Ekonomi

National Chair Indonesia Fashion Chamber (IFC) Lenny Agustin menyebut ajang ini sebagai ruang strategis mengangkat warisan budaya menjadi produk bernilai ekonomi. “Sinergi antara desainer, perajin, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi faktor penting agar kreativitas yang lahir dari daerah dapat menjangkau pasar yang lebih luas dan berkelanjutan,” katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (24/7/2026).

Lenny menambahkan, transformasi wastra melalui sentuhan desain kontemporer membuktikan bahwa identitas budaya tidak harus dikorbankan demi mengikuti zaman. Justru, inovasi membuat kain tradisional semakin relevan bagi generasi muda yang mencari busana bernilai cerita.

Bank Indonesia Dorong Ekosistem Fesyen Berbasis Budaya

Chair IFC Chapter Medan, Nila Mojo, menyampaikan bahwa pihaknya bersama Bank Indonesia terus mendorong pengembangan industri fesyen yang berpijak pada kekayaan budaya Sumatera Utara. Dukungan itu mencakup pendampingan desainer UMKM dalam hal standarisasi produk, akses permodalan, hingga pemasaran digital.

“Kami ingin wastra Sumut tidak hanya dikenal di pameran lokal, tapi juga menjadi komoditas ekspor. Melalui ajang seperti Medan Fashion Trend, para perajin bisa langsung bertemu dengan buyer nasional,” ujar Nila.

Jejaring dan Peluang Ekspor

Lebih dari sekadar peragaan busana, Medan Fashion Trend 2026 dirancang sebagai wadah pertemuan bisnis. Sepanjang acara, desainer dan perajin difasilitasi untuk menjalin komunikasi dengan distributor, butik, dan platform e-commerce. Beberapa koleksi bahkan sudah dipesan oleh gerai fesyen di Jakarta dan Bandung.

Ke depan, wastra Sumatera Utara diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan budaya semata, tetapi juga tumbuh sebagai produk kreatif bernilai ekonomi tinggi yang mampu memperkuat posisi fesyen lokal di pasar nasional hingga global. Medan Fashion Trend 2026 menjadi salah satu langkah konkret mewujudkan ekosistem itu.

Reporter: Said Fauzi
Sumber: gosumut.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top