MEDAN — Hari ini, 25 Juli 2026, perkeretaapian Sumatera Utara genap berusia 140 tahun. Di usia itu, moda rel tak lagi sekadar mengangkut tembakau Deli ke pelabuhan, melainkan menjadi andalan mobilitas warga dan logistik industri.
Manager Humas PT KAI Divisi Regional I Sumut, Anwar Yuli Prastyo, menyebut transformasi ini bukti adaptasi selama lebih dari satu abad. “Setelah 140 tahun, perkeretaapian di Sumatera Utara tidak hanya bertahan tetapi juga bertransformasi. Dari berfokus sebagai angkutan komoditas di awal operasionalnya, kini berkembang menjadi sarana mobilitas favorit masyarakat Sumatera Utara,” ujarnya, Minggu (25/7/2026).
Sejarah perkeretaapian Sumut bermula dari konsesi kepada Deli Spoorweg Maatschappij pada 1883. Jalur pertama Medan–Labuhan dibuka tiga tahun kemudian, didorong industri tembakau Deli yang tengah naik daun. Jaringannya meluas hingga Binjai, Tebing Tinggi, Pematangsiantar, Tanjungbalai, dan Rantau Prapat.
Pada masa kejayaan 1937, total panjang jalur mencapai 553 kilometer. Namun sejumlah cabang seperti Deli Tua, Bangun Purba, dan Pangkalan Brandan ditutup seiring menyusutnya lahan perkebunan. Kini, jaringan aktif membentang 476,46 kilometer, termasuk jalur KA Bandara Kualanamu (2013) dan koneksi ke Pelabuhan Kuala Tanjung serta KEK Sei Mangkei (2022).
Kinerja angkutan penumpang terus menanjak. Tahun 2024, KAI Divre I Sumut melayani 2,43 juta pelanggan. Angka itu naik menjadi 2,63 juta pada 2025. Hingga semester I 2026, volume sudah mencapai 1,39 juta orang dan diperkirakan bertambah hingga akhir tahun.
“Peningkatan jumlah penumpang membuktikan kepercayaan publik terhadap kereta api sebagai moda aman, nyaman, tepat waktu, dan ramah lingkungan,” imbuh Anwar.
Sektor angkutan barang mencatat volume 883.661 ton pada 2024, turun menjadi 685.355 ton di 2025, dan 387.895 ton sepanjang semester I 2026. Fluktuasi ini dipengaruhi dinamika permintaan domestik maupun global serta rantai pasok industri. Meski begitu, KAI menilai angkutan barang tetap menjadi tulang punggung logistik strategis bagi perekonomian daerah.
Menurut Anwar, komitmen ke depan adalah memperkuat interkoneksi antarwilayah dan mendukung aksesibilitas menuju pusat pertumbuhan ekonomi baru. “Kami memastikan kereta api tetap menjadi pilihan transportasi andalan yang berkontribusi nyata dalam memperkuat konektivitas serta mendorong pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara,” tutupnya.