SUMATERA UTARA — FTC mengumumkan distribusi dana tersebut pada Rabu (12/2) waktu setempat. Mayoritas penerima akan mendapatkan cek fisik melalui pos, sementara sebagian lainnya menerima dana lewat PayPal. Jumlah kompensasi bervariasi tergantung pada kategori dan besaran kerugian masing-masing konsumen.
Gugatan ini pertama kali diajukan FTC bersama Jaksa Agung Illinois pada Desember 2024. Grubhub dituding melakukan sejumlah pelanggaran, mulai dari klaim pendapatan pengemudi yang tidak realistis, pembatasan akses akun pelanggan secara sepihak, hingga memasang daftar restoran yang sebenarnya tidak bekerja sama dengan platform.
Salah satu temuan paling mencolok dalam gugatan tersebut adalah keberadaan hingga 325.000 restoran yang terdaftar di platform Grubhub tanpa hubungan kemitraan resmi. Praktik ini dinilai FTC sebagai cara Grubhub memperbesar tampilan platformnya di mata konsumen dan calon mitra bisnis.
Lebih jauh, komplain menyebut Grubhub kerap menolak menghapus restoran yang sudah meminta keluar dari platform. Alih-alih mematuhi permintaan tersebut, perusahaan justru menawarkan skema kemitraan berbayar kepada restoran yang bersangkutan.
Sebagai bagian dari penyelesaian, Grubhub wajib mengubah sejumlah praktik bisnisnya secara fundamental. Perusahaan kini harus menyajikan angka potensi pendapatan pengemudi secara akurat dan tidak menyesatkan, termasuk memisahkan estimasi pendapatan kotor dengan biaya operasional yang harus ditanggung pengemudi.
Grubhub juga diwajibkan menyediakan mekanisme banding bagi pelanggan yang akunnya dibatasi atau dibekukan sehingga tidak bisa mengakses dana mereka. Untuk daftar restoran, perusahaan wajib mendapatkan persetujuan tertulis sebelum memasang nama restoran di platform.
Pengumuman FTC ini hadir hanya sebulan setelah hakim federal menyetujui penyelesaian terpisah senilai hampir USD 25 juta yang melibatkan sekitar 60.000 pengemudi pengiriman Grubhub di California. Dua kasus ini menunjukkan pola pengawasan regulasi yang semakin ketat terhadap model bisnis platform pengiriman makanan.
Grubhub bukan satu-satunya pemain besar yang menjadi sorotan. DoorDash sebelumnya menghadapi kritik dan tuntutan hukum terkait kompensasi pengemudi, sementara Uber Eats juga pernah berurusan dengan gugatan seputar biaya yang dibebankan ke pelanggan dan hubungannya dengan mitra restoran.
Keputusan ini menjadi preseden penting bagi industri pengiriman makanan secara global, termasuk pasar Asia Tenggara yang memiliki model serupa. Praktik pencatutan nama restoran tanpa izin dan klaim pendapatan yang tidak realistis adalah isu yang kerap dikeluhkan para mitra pengemudi di berbagai negara.
Bagi konsumen, penyelesaian ini menegaskan bahwa platform pengiriman makanan memiliki tanggung jawab hukum atas transparansi biaya dan akses dana. Pelanggan yang merasa dirugikan oleh praktik pembekuan akun sepihak kini memiliki jalur komplain yang lebih jelas.
FTC sendiri menegaskan bahwa distribusi kompensasi ini adalah bagian dari upaya berkelanjutan untuk menegakkan praktik bisnis yang adil di sektor ekonomi gig. Perusahaan yang terbukti melanggar akan menghadapi konsekuensi finansial yang signifikan, bukan sekadar teguran administratif.