Kualitas udara di Sumatera Utara kembali memburuk akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti wilayah Medan dan sekitarnya. Partikel halus PM2.5 yang masuk jauh ke dalam sistem pernapasan menjadi ancaman utama, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga dengan riwayat penyakit paru-paru dan jantung. Warga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan dan segera mencari pertolongan medis jika mengalami sesak napas atau nyeri dada.
MEDAN — Kabut asap akibat karhutla yang menyelimuti Kota Medan bukan sekadar mengganggu jarak pandang. Polusi udara yang ditimbulkan meningkatkan risiko gangguan kesehatan serius, dengan partikel halus PM2.5 sebagai polutan utama yang perlu diwaspadai.
Partikel berukuran sangat kecil ini mampu menembus saluran pernapasan dan mencapai bagian paru-paru yang lebih dalam. Dampaknya pun beragam, mulai dari iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, hingga batuk serta sesak napas yang memperburuk penyakit pernapasan yang sudah diderita sebelumnya.
Tingkat keparahan dampak kabut asap tidak sama bagi setiap orang. Hal ini bergantung pada tingkat pencemaran, lama paparan, dan kondisi kesehatan masing-masing individu.
Anak-anak menjadi perhatian utama karena sistem pernapasan mereka masih dalam tahap perkembangan. Lansia dan penderita penyakit jantung atau paru-paru juga berisiko tinggi mengalami perburukan kondisi ketika kualitas udara memburuk.
Masyarakat dapat menekan risiko paparan dengan membatasi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk. Jika terpaksa keluar rumah, penggunaan masker yang sesuai menjadi langkah perlindungan diri yang efektif.
Ventilasi rumah juga perlu menjadi perhatian. Membuka pintu atau jendela terlalu lama justru membuka celah bagi polutan untuk masuk dan mencemari udara di dalam rumah.
Warga yang mengalami keluhan seperti sesak napas, nyeri dada, batuk berat, atau kondisi kesehatan yang memburuk setelah terpapar asap sebaiknya segera mendapatkan pertolongan medis. Gejala-gejala tersebut mengindikasikan adanya tekanan serius pada sistem pernapasan.
Kabut asap karhutla pada akhirnya bukan hanya persoalan lingkungan. Ketika kualitas udara turun, dampaknya langsung dirasakan masyarakat, terutama mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Karena itu, pemantauan kualitas udara menjadi penting selama periode karhutla agar masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas harian dan mengurangi risiko paparan yang berkepanjangan.