MEDAN — Penggunaan bantalan kayu pada jembatan kereta api berangka baja di Sumatera Utara mulai ditinggalkan. KAI Divre I menggantinya dengan bantalan sintetis yang dinilai lebih tahan lama dan ramah lingkungan.
Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, mengungkapkan material sintetis menjadi solusi atas semakin terbatasnya pasokan kayu berkualitas. Selain itu, material ini dinilai lebih adaptif terhadap kondisi cuaca ekstrem dan tumpahan bahan kimia.
“Selama ini, khususnya pada jembatan kereta api berangka baja, masih menggunakan bantalan dengan material kayu. Seiring dengan semakin terbatasnya pasokan kayu, penggunaan bantalan sintetis ini menjadi solusi inovatif untuk menggantikan bantalan kayu sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan,” ujar Anwar.
Program penggantian ini berjalan secara bertahap. Pada 2022, sebanyak 200 batang terpasang. Angka itu naik menjadi 240 batang pada 2023, lalu melonjak signifikan menjadi 850 batang pada 2024.
Memasuki 2025, realisasi mencapai 913 batang. Adapun target pemasangan pada 2026 sebanyak 928 batang dijadwalkan rampung seluruhnya sebelum akhir tahun.
Keunggulan teknis bantalan sintetis disebut setara dengan kayu, terutama dalam hal peredaman getaran saat kereta melintas. Namun dari segi ketahanan, material ini jauh lebih unggul dengan masa pakai yang bisa melampaui lima dekade.
Bantalan sintetis juga tidak mudah lapuk akibat kelembapan, tahan terhadap cuaca ekstrem, serta tidak bereaksi terhadap tumpahan oli maupun solar. Elastisitasnya membantu meredam kebisingan yang ditimbulkan roda kereta saat melintasi jembatan.
“Semakin banyak bantalan sintetis yang kita gunakan, semakin banyak pohon yang dapat diselamatkan dari penebangan. Dengannya, ribuan pohon berhasil kita selamatkan. Langkah ini merupakan wujud nyata dukungan KAI untuk mewujudkan bumi yang lebih hijau,” tegas Anwar.