MEDAN — IHSG sempat dibuka menguat ke level 6.538 pada awal perdagangan Selasa (1/9). Namun, sentimen negatif dari kawasan Asia membuat indeks berpotensi berbalik melemah sepanjang sesi perdagangan.
Mayoritas bursa saham di Asia terpantau berada di zona merah. Kondisi itu membuka ruang bagi IHSG untuk ikut terkoreksi, seiring ketidakpastian yang masih menyelimuti perkembangan geopolitik global.
Meski dibuka positif, Gunawan menilai tekanan dari eksternal masih cukup kuat. Ia mengingatkan bahwa pelemahan di bursa kawasan bisa menular ke pasar domestik.
"Tekanan pada pasar saham di kawasan Asia membuka ruang bagi IHSG untuk ikut ditransaksikan melemah. Dengan kondisi tersebut, IHSG masih rawan mengalami koreksi pada perdagangan hari ini," ujar Gunawan.
Perhatian pelaku pasar saat ini tertuju pada rilis data inflasi Indonesia periode Agustus. Inflasi tahunan diperkirakan berpeluang berada di atas level 3%.
Selain inflasi, pasar juga mencermati data neraca perdagangan Indonesia untuk Juli. Defisit neraca perdagangan diproyeksikan mengecil dibandingkan capaian bulan sebelumnya yang sebesar US$0,45 miliar.
"Pelaku pasar akan mencermati bagaimana arah inflasi dan neraca perdagangan. Kedua data tersebut akan menjadi tambahan sentimen bagi pasar keuangan domestik," jelasnya.
Di pasar valuta asing, rupiah bergerak relatif stabil di kisaran Rp17.710 per dolar AS. Pergerakan yang terbatas ini terjadi di tengah potensi tekanan fundamental dari data neraca perdagangan.
Namun, pelemahan indeks dolar AS atau USD Index ke level 99,4 menjadi katalis positif bagi rupiah. Kondisi tersebut memberi ruang bagi mata uang garuda untuk menahan dominasi dolar AS.
Tensi geopolitik global dalam perdagangan terakhir relatif terkendali. Hal ini membuat pergerakan harga komoditas utama cenderung stabil.
Harga minyak mentah tercatat berada di kisaran US$91 per barel. Sementara itu, harga emas dunia bergerak datar di sekitar US$4.441 per troy ounce, atau setara Rp2,54 juta per gram.
Gunawan menilai belum ada katalis kuat yang mampu mendorong pergerakan harga emas secara signifikan. Kondisi serupa juga terlihat pada pasar saham dan valuta asing domestik.
Dengan minimnya katalis baru, pergerakan pasar keuangan domestik diprediksi masih akan berada dalam rentang terbatas. Pelaku pasar tampaknya masih menunggu kejelasan arah kebijakan dari data-data ekonomi yang akan dirilis.
"Untuk sementara, rupiah, IHSG, maupun emas masih berpeluang bergerak dalam rentang yang terbatas atau sideways, setidaknya selama sentimen baru belum muncul di pasar," pungkas Gunawan.