MEDAN — BPBD Sumatera Utara menyasar enam daerah prioritas rawan bencana sepanjang 2026, mulai dari pesisir hingga kawasan danau. Enam daerah tersebut adalah Kabupaten Tapanuli Tengah, Kota Tanjungbalai, Kabupaten Samosir, Kabupaten Deliserdang, Kabupaten Mandailing Natal, dan Kabupaten Toba.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Sumut, Manutur P Naibaho, menyebut kegiatan mitigasi untuk dua daerah pertama, Tapteng dan Tanjungbalai, sudah berjalan. Pelatihan yang diberikan menyasar kemampuan warga menyelamatkan diri secara mandiri saat bencana tiba.
"Kita latih dan mengajari mereka membuat jalur evakuasi. Tujuannya untuk mendidik masyarakat agar mampu mengevakuasi mandiri, mengenalkan bencana dan menyiapkan diri ke lokasi mana mereka akan dievakuasi," kata Manutur seusai temu pers di Medan, Jumat (4/9/2026).
Kepala BPBD Sumut Tuahta Ramajaya Saragih memaparkan, provinsi ini mencatat 14 jenis kejadian bencana. Berdasarkan data 1 Januari hingga 4 September 2026, cuaca ekstrem menjadi yang paling sering terjadi dengan 127 kejadian.
Tanah longsor menyusul dengan 86 kejadian, banjir 73 kejadian, dan kebakaran hutan 47 kejadian. Angka ini menjadi alasan BPBD memperkuat fase persiapan sebelum bencana, bukan hanya fokus pada tanggap darurat.
"Program mitigasi adalah bagaimana cara kita untuk memanage persiapan sebelum terjadinya bencana. BPBD memiliki tiga tahap pekerjaan yakni persiapan, tanggap darurat dan pasca bencana," ujar Tuahta.
Mitigasi yang dijalankan BPBD mencakup pemetaan wilayah dengan membuat peta kawasan rawan bencana seperti banjir, longsor, dan gempa bumi berdasarkan kondisi geografis. Peta ini menjadi dasar penentuan titik evakuasi yang aman bagi warga.
Selain pemetaan, BPBD menggelar sosialisasi dan edukasi melalui penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat di daerah rawan. Simulasi dan pelatihan evakuasi mandiri juga diberikan, termasuk uji coba alat peringatan dini atau Early Warning System (EWS).
BPBD turut mendorong pemerintah daerah menyusun tata ruang yang peka terhadap risiko bencana. Langkah ini dilakukan agar pembangunan infrastruktur tidak memperparah potensi bahaya di masa mendatang.
Pada tahap pra-bencana, BPBD Sumut bekerja menyeluruh melalui Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) yang menyasar pelajar dan masyarakat umum. Penyusunan berbagai dokumen strategis juga menjadi bagian dari pekerjaan ini.
Manutur menambahkan, edukasi sejak dini kepada pelajar menjadi kunci membangun budaya sadar bencana. Dengan pemahaman yang baik, warga diharapkan tahu persis ke mana harus berlindung dan bagaimana merespons tanda-tanda bahaya.
Kegiatan mitigasi di empat daerah lainnya, yakni Samosir, Deliserdang, Madina, dan Toba, akan menyusul setelah program di Tapteng dan Tanjungbalai tuntas dievaluasi.