8 Kesalahan Investasi Emas yang Harus Dihindari 2026, dari Spread Buyback hingga Panic Selling

Penulis: Amrizal Halim  •  Sabtu, 12 September 2026 | 11:32:32 WIB
Harga emas Antam sempat mencapai Rp2.917.810 per gram pada 28 Januari 2026 sebelum terkoreksi ke Rp2.600.000 per gram.

SUMATERA UTARA — Harga emas Antam sempat menyentuh puncak Rp2.917.810 per gram pada 28 Januari 2026, lalu merosot ke Rp2.600.000 per gram pada 12 September 2026 — koreksi 10,9%. Investor yang membeli di puncak masih menanggung rugi hingga kini. Sebagian besar dari mereka terjebak bukan karena salah membaca pasar, melainkan karena mengabaikan hal-hal mendasar sebelum bertransaksi.

1. Beli Emas Saat Harga Sedang Tinggi karena FOMO

Banyak investor pemula panik membeli emas ketika harga sedang melambung, lalu panik menjual saat harga turun. Pola ini kebalikan dari prinsip investasi yang benar.

Handi Sutanto, Direktur Antam, menegaskan hal ini kepada CNN Indonesia pada April 2026. "Emas bukan instrumen investasi jangka pendek, melainkan untuk jangka menengah hingga panjang," ujarnya.

Solusinya adalah strategi Dollar-Cost Averaging (DCA): beli emas secara rutin setiap bulan dengan nominal tetap, tanpa memedulikan harga naik atau turun. Cara ini menghasilkan harga rata-rata yang lebih baik dalam jangka panjang.

2. Tidak Cek Spread Buyback sebelum Membeli

Ini kesalahan paling mahal yang sering dilakukan investor emas. Spread buyback adalah selisih antara harga beli dan harga jual kembali.

Spread Antam di 2026 bisa mencapai Rp305.000 per gram, setara 11,4%. Artinya, emas harus naik 11,4% lebih dulu sebelum investor balik modal. Kontan.co.id mencatat, dengan selisih setebal itu, emas hanya cocok untuk investasi jangka panjang.

Langkah yang benar: selalu cek spread sebelum membeli. Pilih merek dengan spread kecil seperti Galeri24 yang berada di kisaran Rp108.000, atau beli langsung di logammulia.com untuk produk Antam karena spread-nya lebih kecil dibanding membeli di Pegadaian.

3. Membeli Emas Perhiasan untuk Investasi

Kesalahan klasik yang masih sering terjadi. Banyak orang membeli cincin, kalung, atau gelang emas dengan dalih investasi, padahal ongkos pembuatan (making charge) 20–30% hangus saat dijual kembali.

Contohnya: beli 1 gram perhiasan 18K seharga Rp750.000. Saat dijual, ongkos pembuatan Rp150.000 hilang total. Yang tersisa hanya berat emas murni 0,75 gram. Dengan harga emas Rp2.600.000 per gram, nilai emas murninya sekitar Rp1.462.500 — rugi Rp287.500 atau 38%.

Rista, perencana keuangan, menyatakan kepada Kompas.com bahwa emas batangan secara umum lebih efektif untuk investasi dibandingkan perhiasan.

4. Menyimpan Emas di Rumah Tanpa Brankas

Menyimpan emas di rumah tanpa pengaman memadai berisiko tinggi. Kasus pencurian emas di rumah bukan hal baru di Indonesia.

Sepanjang 2025–2026, seorang pembantu rumah tangga mencuri emas senilai hampir Rp1 miliar dari brankas majikannya setelah 30 tahun bekerja. Kasus ini dilaporkan Tribunnews dan menjadi pelajaran bagi pemilik emas fisik.

Rijadh, dosen UGM, mengingatkan risiko tersebut kepada Kompas.com. "Ada risiko kehilangan pastinya jika disimpan di rumah. Ada alternatif penyimpanan lain, misal di jasa safe deposit box perbankan," katanya.

5. Tidak Memverifikasi Sertifikat Emas

Emas batangan palsu beredar di Indonesia, terutama produk Antam yang dipalsukan. Tanpa verifikasi sertifikat, investor bisa membeli emas yang tidak memiliki nilai jual.

  • Periksa nomor seri sertifikat di website atau aplikasi resmi produsen.
  • Gunakan UV light untuk melihat fitur keamanan tersembunyi.
  • Verifikasi berat dengan timbangan presisi.
  • Scan QR code lewat aplikasi CertiEye (Antam) atau LA Track (Lotus Archi).
  • Hanya beli dari penjual resmi: Butik Antam, Pegadaian, Galeri24, atau platform digital terdaftar.

6. Panic Selling saat Harga Turun

Pada 13 Maret 2026, CNBC Indonesia melaporkan harga emas rontok dihantam panic selling — jatuh hampir 2% dalam satu hari. Investor yang panik menjual rugi besar, karena harga langsung recovery keesokan harinya.

Irfan Agia, psikolog konsumen, memberi nasihat kepada KOMPAS.TV pada Juli 2026. "Jangan mengambil keputusan investasi berdasarkan rasa takut (FOMO) maupun kepanikan saat harga turun," ujarnya.

Saat harga turun, tinjau kembali tujuan investasi, jangan cek harga setiap hari, dan pertimbangkan membeli lebih banyak karena harga murah adalah diskon bagi investor jangka panjang. Dalam 20 tahun terakhir, harga emas selalu recovery setelah koreksi.

7. Menjadikan Emas sebagai Satu-Satunya Investasi

Menempatkan seluruh dana di emas membuat portofolio rentan terhadap koreksi harga dan tidak likuid saat kebutuhan mendesak. Emas tidak menghasilkan arus kas seperti dividen saham atau kupon obligasi.

Investor perlu mendiversifikasi ke instrumen lain sesuai profil risiko, misalnya reksa dana, obligasi negara, atau saham, sehingga fluktuasi satu aset tidak mengguncang seluruh portofolio.

8. Investasi Emas Tanpa Dana Darurat

Membeli emas dengan uang yang seharusnya dialokasikan untuk dana darurat berbahaya. Ketika kebutuhan mendesak muncul, investor terpaksa menjual emas di harga yang tidak menguntungkan, ditambah spread buyback yang sudah memakan margin.

Dana darurat idealnya disimpan di instrumen likuid seperti tabungan atau deposito, minimal 3–6 bulan pengeluaran bulanan, sebelum mengalokasikan dana ke emas.

Cara Investasi Emas yang Benar

Pilih emas batangan bersertifikat dari penjual resmi, cek spread buyback sebelum transaksi, gunakan strategi DCA, dan simpan di tempat aman seperti safe deposit box. Pastikan dana darurat sudah tersedia sebelum mulai berinvestasi.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Amrizal Halim
Sumber: industry.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top