SUMATERA UTARA — Bagi kalangan terdekat, pola makan Presiden Prabowo bukan sekadar urusan selera. Dalam setiap sesi makan bersama, pria yang akrab disapa Chef Yudi Mulyadi—koki Garuda Indonesia yang bertugas menyiapkan hidangan di pesawat kepresidenan—harus membawa bahan baku khusus dari dalam negeri. Daun pembungkus nasi bakar, misalnya, tidak bisa diganti sembarangan. Di penerbangan jarak jauh, area crew rest bahkan dialihfungsikan menjadi gudang sembako.
Ajaran Kakek yang Jadi Fondasi Kepemimpinan
Menurut catatan Dirgayuza yang diterbitkan detikFood pada 16 Juni 2026, falsafah yang paling sering diulang Presiden Prabowo adalah becik ketitik ala ketara—kebaikan akan terlihat, keburukan akan terungkap. Prinsip ini kerap ia sampaikan saat menghadapi tuduhan yang dinilainya tidak benar. "Kebenaran memiliki cara untuk menemukan jalannya sendiri, walau tidak cepat apalagi instan," demikian pesan yang kerap ia sampaikan.
Ajaran lain yang selalu hadir di meja makan adalah sabdo pandito ratu, bahwa ucapan pemimpin adalah janji. Presiden Prabowo mengingatkan agar setiap pernyataan kepada publik dipertimbangkan matang-matang. Prinsip rame ing gawe, sepi ing pamrih—banyak bekerja, sedikit menuntut imbalan—juga menjadi pegangan yang paling sering ia tekankan kepada staf dan ajudannya.
Larangan Sombong dan Kekayaan Sejati
Dalam soal sikap, Presiden Prabowo kerap mengutip ojo dumeh—jangan sombong karena jabatan atau kekuasaan. Berpasangan dengan itu, ia juga mengingatkan ojo ngoyo, agar tidak memaksakan kehendak di luar kemampuan. Ambisi, menurutnya, harus disertai perhitungan yang matang.
Soal kekayaan, Kepala Negara memiliki pandangan sugih tanpo bondo: kaya tanpa harta. Kekayaan sejati, katanya, terletak pada nilai, prinsip, kehormatan, dan pengabdian. Dalam perjuangan politik, ia menganut falsafah menang tanpo ngasorake—kemenangan yang terbaik adalah yang tetap menjaga martabat semua pihak.
Teladan Pemimpin dan Senyum Rakyat Kecil
Ajaran kepemimpinan yang paling sering ia kutip adalah ing ngarsa sung tulada: pemimpin harus di depan memberi teladan. Presiden Prabowo menekankan bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya memberi perintah, melainkan harus menjadi contoh.
Pada akhirnya, seluruh falsafah itu bermuara pada satu ukuran sederhana yang ia kutip dari almarhum Cak Nur, mantan Gubernur Jawa Timur: yen wong cilik iso gumuyu. Jika rakyat kecil bisa tersenyum, berarti kita berada di jalan yang benar. "Kuliah kepemimpinan di meja makan selalu berakhir di sana," tulis Dirgayuza dalam catatannya.
Bagi mereka yang pernah duduk semeja dengan Presiden Prabowo, bakso, nasi bakar, dan Kopi Hambalang bukan sekadar hidangan. "Yang sesungguhnya mengenyangkan bukan hanya makanannya, melainkan juga bekal ilmu yang menyertainya," demikian penggalan catatan tersebut.