SAMOSIR — Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, mengumumkan rencana pembangunan SMK Pariwisata gratis di Kabupaten Samosir. Sekolah ini akan menggunakan sistem asrama atau boarding school, di mana seluruh biaya pendidikan ditanggung sepenuhnya oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
Lahan dan DED Sudah Siap, Target Cetak Tenaga Profesional Pariwisata
Rencana ini disampaikan Bobby dalam Rapat Kerja Nasional Punguan Simbolon dohot Boruna Indonesia di Jakarta. Ia menegaskan, pembangunan sekolah ini bukan sekadar wacana. Lahan telah disiapkan oleh Pemerintah Kabupaten Samosir, dan Detail Engineering Design (DED) proyek tersebut juga sudah rampung.
"Ini akan menjadi SMK Pariwisata," kata Bobby dalam sambutannya di hadapan peserta rakernas.
Target sekolah ini jelas: mencetak lulusan yang siap kerja di industri pariwisata. Mulai dari pemandu wisata, pengelola hotel, pelaku UMKM, hingga manajer destinasi. Selama ini, pembangunan kawasan Danau Toba seringkali hanya fokus pada infrastruktur fisik seperti jalan mulus, hotel baru, atau perbaikan dermaga.
Pendidikan Karakter dan Kesiapan Mental Jadi Paket Lengkap
Konsep boarding school dipilih bukan tanpa alasan. Selain belajar teori di kelas, para siswa akan ditempa dalam hal pembentukan karakter dan kesiapan mental. Hal ini dinilai krusial karena pelayanan di sektor pariwisata membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga unggul dalam etika dan komunikasi.
Dengan adanya sekolah ini, kualitas pelayanan di destinasi super prioritas Danau Toba diharapkan meningkat drastis. Selama ini, keluhan wisatawan kerap kali bukan pada pemandangan, melainkan pada kualitas SDM yang melayani.
Dorong Budaya Batak Jadi Sumber Ekonomi Kreatif
Dalam kesempatan yang sama, Bobby juga menyinggung soal pelestarian budaya. Menurutnya, budaya Batak tidak boleh hanya disimpan di museum atau ditampilkan saat acara seremonial. Budaya harus bisa menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Ia mendorong pengembangan industri kreatif berbasis budaya. Seni, tradisi, dan produk budaya Batak dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi jika dikelola dengan baik. Logikanya, budaya yang hidup adalah budaya yang dipakai, diproduksi, dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakatnya.
"Budaya jangan cuma disimpan di museum," ujar Bobby, menekankan pentingnya ekonomi kreatif sebagai tulang punggung masyarakat Samosir ke depan.