MEDAN — Peluncuran jersey PSMS Medan untuk Piala Presiden Elite 2026 berlangsung meriah di Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU), Jalan Gatot Subroto, Senin (20/7/2026) malam. Acara yang sempat molor hingga pukul 20.00 WIB itu tetap dihadiri ratusan suporter setia Ayam Kinantan yang sudah memadati lokasi sejak sore.
Empat Varian Jersey untuk Tiga Kategori Pertandingan
Apparel resmi DRX merilis empat varian jersey yang akan digunakan PSMS. Untuk laga kandang, tim tetap setia pada warna hijau kebesaran. Sementara itu, dua jersey khusus kiper berwarna merah dan kuning, serta satu set jersey putih untuk pertandingan tandang.
Presiden PSMS Medan, Fendi Jonathan, membuka acara bersama pelatih Eko Purdjianto. Momen ini juga menjadi ajang perkenalan sejumlah rekrutan anyar untuk musim 2026/2027. Beberapa nama seperti Angelo Meneses, Manahati Lestusen, dan Rachmad Hidayat mendapat sambutan paling meriah dari suporter yang hadir.
Mengapa Peluncuran Ini Spesial?
Fendi Jonathan mengawali sambutannya dengan permohonan maaf atas mundurnya jadwal acara. Namun, ia menegaskan bahwa peluncuran ini bukan sekadar seremoni memperkenalkan kostum baru.
"Kenapa kita menggelar launching jersey? Karena ini adalah momen yang sangat penting. Terakhir kali PSMS mengikuti Piala Presiden adalah tahun 2018, delapan tahun yang lalu. Tidak mudah bisa tampil di Piala Presiden karena sifatnya undangan, tidak semua tim bisa ikut," ujar Fendi.
Ia menambahkan, PSMS menjadi satu-satunya wakil Liga 2 yang lolos undangan untuk Piala Presiden Elite 2026. Artinya, tim kebanggaan Kota Medan ini harus bersaing dengan klub-klub dari kasta tertinggi Liga 1.
Antusiasme Suporter Warnai Malam Peluncuran
Meski acara sempat tertunda, atmosfer di PRSU tetap hangat. Panitia menghadirkan kuis dan permainan interaktif dengan beragam hadiah menarik. Para pendukung terus menyanyikan lagu-lagu kebanggaan PSMS sambil menyambut pemain yang hadir di atas panggung.
Bagi suporter, kehadiran PSMS di Piala Presiden Elite 2026 menjadi kebanggaan tersendiri setelah delapan tahun absen. Ajang ini juga menjadi panggung pembuktian bahwa The Killer mampu bersaing dengan tim-tim besar meski berasal dari Liga 2.