Pencarian

Industri Padat Karya Bangkit, Furnitur Tumbuh 11,8 Persen

Rabu, 23 September 2026 • 14:02:31 WIB
Industri Padat Karya Bangkit, Furnitur Tumbuh 11,8 Persen
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan kebangkitan industri padat karya dalam Antara Business Forum 2026 di Jakarta, Rabu (23/9/2026).

SUMATERA UTARA — Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan industri padat karya kembali bangkit pada triwulan II 2026 setelah dua tahun tertekan gelombang PHK. Subsektor furnitur memimpin dengan pertumbuhan 11,8 persen, disusul alas kaki dan kulit 11,3 persen. Kebangkitan ini berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja di sektor pengolahan yang menampung 19,99 juta pekerja per Februari 2026.

Sektor pengolahan nonmigas mencatat pertumbuhan 5,32 persen pada triwulan II 2026, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,29 persen. Capaian itu ditopang oleh kebangkitan sejumlah subsektor padat karya yang sebelumnya menjadi sorotan karena gelombang pemutusan hubungan kerja.

Agus menyampaikan hal tersebut dalam Antara Business Forum 2026 di Jakarta, Rabu (23/9/2026). Menurutnya, pertumbuhan di sektor padat karya membawa efek berganda yang jauh lebih besar terhadap pembukaan lapangan kerja dibanding sektor lain.

Furnitur hingga Tekstil Tumbuh Positif

Subsektor furnitur mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 11,8 persen. Peringkat kedua ditempati alas kaki dan kulit dengan pertumbuhan 11,3 persen.

Makanan dan minuman tumbuh 6,5 persen, sedangkan tekstil dan pakaian jadi naik 6,4 persen. Secara keseluruhan, 14 dari 15 subsektor industri pengolahan mencatatkan pertumbuhan positif pada periode yang sama.

Satu subsektor masih menjadi titik rawan. Industri karet dan plastik mengalami kontraksi 6,98 persen akibat sensitivitas terhadap harga minyak bumi dan serbuan produk impor murah.

Penyerapan Tenaga Kerja Jadi Kunci

Agus menegaskan, kebangkitan industri padat karya berdampak langsung pada penyerapan lapangan kerja. Sektor pengolahan telah menampung 19,99 juta pekerja per Februari 2026.

"Ini industri padat karya, sektor yang dua tahun lalu banyak diberitakan sedang melakukan PHK. Hari ini sektor-sektor itu bangkit kembali," kata Agus.

Ia menjelaskan, pertumbuhan satu persen di industri padat karya menyerap jauh lebih banyak tenaga kerja dibandingkan pertumbuhan yang sama di industri padat modal. Karakter itulah yang membuat pemulihan sektor ini penting bagi pasar kerja nasional.

Kontribusi ke PDB dan Ekspor

Industri pengolahan nonmigas menyumbang Rp 1.102,88 triliun terhadap PDB nasional pada triwulan II 2026. Sektor ini juga menjadi tulang punggung ekspor dengan kontribusi 82,18 persen dari total ekspor nasional periode Januari–Juli 2026 yang senilai US$ 137,26 miliar.

Dari sisi investasi, sektor pengolahan menyerap 38,98 persen realisasi investasi triwulan II 2026 yang mencapai Rp 199,48 triliun. Kontribusi industri pengolahan terhadap PDB Indonesia juga terus menanjak, dari 18,34 persen pada 2022 menjadi 19,07 persen pada 2025.

Angka itu jauh di atas rata-rata kontribusi industri pengolahan dunia yang berada di kisaran 14,9 persen.

Peringkat 12 Dunia

Di kancah global, Indonesia menempati peringkat ke-12 dunia sekaligus menjadi negara dengan Manufacturing Value Added (MVA) terbesar di Asia Tenggara pada 2025. Nilai MVA Indonesia hampir dua kali lipat MVA Thailand yang sebesar US$ 137 miliar dan Vietnam US$ 126 miliar.

Posisi tersebut menempatkan Indonesia sebagai pemain utama manufaktur di kawasan, meski tantangan dari produk impor murah dan fluktuasi harga komoditas masih membayangi sejumlah subsektor.

Pemulihan industri padat karya menjadi penanda penting bagi pasar kerja nasional. Setelah dua tahun bergulat dengan efisiensi dan PHK, subsektor furnitur, alas kaki, tekstil, hingga makanan dan minuman kini kembali menjadi penopang utama penyerapan tenaga kerja.

Follow kabarsumut.co.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: liputan6.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks