LANGKAT — Sosialisasi Program Bangga Kencana menyasar warga Desa Sidomakmur, Kecamatan Kuala, Kabupaten Langkat, dengan melibatkan aparatur desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan berbagai unsur setempat. Delia Pratiwi Br. Sitepu menekankan keluarga sebagai fondasi utama mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Menurut Delia, keberhasilan pembangunan bangsa tidak hanya ditentukan pertumbuhan ekonomi. Kualitas generasi yang dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga menjadi penentu utama.
"Kalau kita ingin mewujudkan Indonesia Emas 2045, maka yang harus kita persiapkan sejak sekarang adalah keluarga yang sehat, anak-anak yang cerdas, serta generasi yang berkualitas," ungkap Delia.
Pilihan Kontrasepsi dan Pencegahan Stunting Jadi Sorotan
Dalam paparannya, Delia mengajak masyarakat memahami pentingnya perencanaan keluarga melalui penggunaan alat kontrasepsi yang sesuai kebutuhan dan kondisi kesehatan. Ia memperkenalkan sejumlah pilihan metode, mulai dari IUD, implan, suntik, pil KB, hingga kontrasepsi mantap.
Persoalan stunting juga menjadi perhatian dalam dialog bersama peserta. Delia mendorong orang tua memahami pemenuhan gizi sejak masa kehamilan, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, serta pengasuhan yang baik bagi tumbuh kembang anak.
Pencegahan stunting, tegasnya, bukan hanya tanggung jawab ibu. Keterlibatan aktif ayah dalam memberikan perhatian, dukungan emosional, dan menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis ikut menentukan.
BKKBN Kini Dampingi Keluarga di Seluruh Siklus Kehidupan
Kepala Perwakilan BKKBN Sumatera Utara Mahyuzar menjelaskan transformasi BKKBN menjadi Kemendukbangga/BKKBN membawa peran yang semakin luas dalam pembangunan keluarga. BKKBN kini tidak hanya berfokus pada pelayanan keluarga berencana.
Lembaga itu hadir mendampingi masyarakat dalam seluruh siklus kehidupan, mulai dari persiapan pernikahan, kehamilan, pengasuhan balita, masa remaja, hingga lanjut usia.
"BKKBN sekarang tidak hanya berbicara tentang dua anak cukup atau alat kontrasepsi. Kita hadir untuk mendampingi keluarga dalam setiap tahapan kehidupan, agar setiap anggota keluarga dapat tumbuh sehat, mandiri, produktif, dan berkualitas," jelas Mahyuzar.
GATI hingga MBG 3B, Program Prioritas yang Diperkenalkan
Mahyuzar memperkenalkan sejumlah program prioritas Kemendukbangga/BKKBN dalam kegiatan tersebut. Program itu meliputi Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Lansia Berdaya (SIDAYA), serta Makan Bergizi Gratis bagi Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Balita Non-PAUD (MBG 3B).
Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) menarik perhatian peserta. Melalui dialog santai, Mahyuzar mengajak para ayah lebih aktif terlibat dalam kehidupan anak, termasuk mengantar anak ke sekolah, mengambil rapor, mendampingi belajar, dan membangun komunikasi yang hangat di rumah.
Kehadiran ayah, katanya, tidak cukup hanya sebagai pencari nafkah. Ayah juga berperan sebagai sosok yang memberikan kasih sayang, keteladanan, dan dukungan bagi perkembangan anak.
Untuk para lansia, Mahyuzar mengajak mereka tetap sehat, aktif, dan produktif melalui program SIDAYA. Usia lanjut bukan penghalang untuk terus berkarya dan memberikan manfaat bagi keluarga maupun lingkungan.
Terkait MBG 3B, Mahyuzar mengingatkan pentingnya peran Tim Pendamping Keluarga (TPK) dan Penyuluh KB dalam memastikan bantuan makanan bergizi tersalurkan tepat sasaran kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Gotong Royong dan Pemeriksaan Kesehatan Calon Pengantin
Sekretaris Dinas PKB dan PPA Kabupaten Langkat Supardi mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat semangat gotong royong dalam pencegahan stunting melalui program GENTING. Keterlibatan orang tua asuh, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membantu keluarga berisiko stunting.
Supardi juga mengingatkan pentingnya pemeriksaan kesehatan bagi calon pengantin dan ibu hamil. Pemeriksaan itu mencakup pengukuran lingkar lengan atas untuk mendeteksi risiko kekurangan energi kronis serta pemeriksaan hemoglobin untuk mendeteksi anemia.
Melalui sosialisasi tersebut, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa membangun keluarga berkualitas bukan semata-mata tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama.