TAPANULI SELATAN — PT Agincourt Resources (PTAR) menjalankan rehabilitasi hutan di kawasan operasional Tambang Emas Martabe, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, secara bertahap tanpa menunggu kegiatan tambang berakhir. Hingga Juli 2026, sebanyak 56,75 hektare lahan sudah direhabilitasi dari target 521,37 hektare yang dikejar tuntas pada 2034.
Rehabilitasi progresif itu menjadi pembeda dari banyak area pasca tambang yang kerap meninggalkan lubang bekas galian dan konflik lahan dengan warga. PTAR ingin memastikan saat izin operasional berakhir, kawasan sekitar tambang sudah kembali hijau.
Pembibitan 60 Ribu Bibit dari 70 Spesies Tanaman Lokal
Junior Supervisor Environmental Rehabilitation PTAR, Yuni Pulungan, mengatakan perusahaan mengembangkan pembibitan menggunakan tanaman lokal untuk mendukung reklamasi dan rehabilitasi. Saat ini terdapat 60 ribu bibit dengan 70 spesies tanaman di pusat pembibitan milik perusahaan.
Bibit yang ditanam tidak diambil sembarangan. Semuanya berasal dari tanaman asli Hutan Batangtoru, dimulai dari cabutan anakan pohon induk yang tumbuh di alam sekitar wilayah operasional PTAR.
Anakan bibit itu dibawa ke Pusat Pembibitan PTAR atau nursery untuk dirawat. Setelah cukup umur, bibit dipindahkan ke area reklamasi sebagai tanaman sisipan.
Jenis tanaman yang dikembangkan antara lain beringin, kapur, meranti, jotik jotik, barus, durian, cempedak hutan, nangka hutan, dan jengkol hutan. PTAR juga mengembangkan tanaman endemik Batangtoru.
"Tanaman lokal yang hanya ada di Batangtoru atau endemik itu Simarbaliding dan Torop," kata Yuni.
Simarbaliding dengan nama ilmiah Ixonanthes petiolaris berasal dari Sumatra, khususnya Tapanuli. Torop menjadi sumber pakan penting bagi satwa liar, terutama orangutan Tapanuli yang habitatnya berada di Ekosistem Batangtoru.
Kawasan Rehabilitasi Mulai dari Perkantoran hingga Dinding Tailing
Kawasan sasaran rehabilitasi merupakan area preservasi PTAR yang sebelumnya telah dipetakan. Lokasinya mencakup area perkantoran hingga area pit seperti dinding Tailing Storage Facility (TSF).
Jenis tanaman yang digunakan di setiap area berbeda sesuai karakter lahan. Ada tanaman kacang-kacangan atau Legume Cover Crops (LCC) dan tanaman tegakan.
"Setelah area rehabilitasi sudah ditentukan, kita isi dulu dengan tanaman kacangan atau LCC tanaman yang cepat tumbuh dan membuat tanah jadi lebih subur. Setelah beberapa bulan kemudian kita masukan tanaman-tanaman pionir," ujar Yuni.
Tim Biodiversity PTAR memantau pertumbuhan tanaman sekaligus fauna dan serangga yang menghampiri area rehabilitasi. Berdasarkan rekomendasi tim Biodiversity Advisory Panel (BAP), PTAR menjalin kerja sama dengan Research Center for Climate Change Universitas Indonesia (RCCC UI) untuk monitoring dan pemantauan.
Tujuh Upaya Konservasi Sejak Beroperasi 2012
Langkah Yuni Pulungan dan tim nursery merupakan bagian kecil dari upaya konservasi yang diinisiasi PTAR sejak beroperasi pada 2012. Perusahaan membentuk Panel Penasehat Keanekaragaman Hayati atau Biodiversity Advisory Panel (BAP) berisi pakar ilmiah independen dari berbagai universitas.
Sejumlah pakar yang terlibat di antaranya Rondang Siregar, Sri Suci Utami Atmoko, Puji Rianti, dan Onrizal. Panel ini memberi masukan pengelolaan keanekaragaman hayati di sekitar wilayah operasi.
PTAR menerapkan hierarki mitigasi Hindari-Minimalkan-Pulihkan-Imbangi. Dampak terhadap biodiversitas diupayakan dihindari lebih dulu, kemudian diminimalkan, dipulihkan, dan bila diperlukan diimbangi.
Prinsip lindungi sebelum buka lahan juga dijalankan. Sebelum land clearing, perusahaan melakukan survei dan pemeriksaan fauna. Jika ditemukan satwa dilindungi, kegiatan di sekitar lokasi dapat dihentikan untuk memastikan prosedur perlindungan berjalan.
Perusahaan menjaga konektivitas habitat melalui jembatan arboreal yang membantu satwa penghuni tajuk berpindah antarpohon. PTAR juga menetapkan area konservasi seluas 1.985,47 hektare sebagai bagian dari upaya menjaga biodiversitas.
Stasiun Riset Batangtoru dibangun dengan teknologi dan fasilitas untuk mendukung penelitian serta konservasi. Pengembangannya membuka ruang kolaborasi dengan akademisi, lembaga swadaya masyarakat, dan warga sekitar.
Dengan rangkaian upaya itu, PTAR menargetkan rehabilitasi berjalan 100 persen saat izin operasional berakhir pada 2034. Saat kegiatan tambang berhenti, hutan Batangtoru diharapkan kembali tertutup hijau.