MEDAN — Prof. Dr. H. Hasrat Efendi Samosir, M.A. membuktikan bahwa puncak intelektualitas seorang akademisi harus berdampak langsung pada kemaslahatan umat di Sumatera Utara. Sebagai Guru Besar, ia tidak hanya berkutat di ruang kuliah, tetapi juga aktif menyentuh akar rumput melalui berbagai organisasi keagamaan besar.
Kiprahnya di Medan mencerminkan sosok cendekiawan yang membumi, di mana teori-teori akademik diterjemahkan menjadi solusi praktis bagi problematika masyarakat. Ia konsisten menanamkan etika Islam dan cara berpikir kritis kepada mahasiswa sekaligus jemaah di luar kampus melalui gaya komunikasi yang santun.
Hasrat Efendi Samosir memegang peran vital dalam struktur Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara dan Muhammadiyah. Di lembaga-lembaga tersebut, pemikirannya sering menjadi rujukan utama dalam membedah berbagai isu keumatan yang berkembang di wilayah Medan dan sekitarnya.
Ia dikenal memiliki gaya komunikasi yang tenang namun tetap berpegang teguh pada prinsip filosofis yang kuat. Hal ini membuatnya sering dipercaya menjadi penengah sekaligus pemberi solusi saat muncul dinamika atau perbedaan pandangan di tengah organisasi keislaman.
Bagi jajaran Penyuluh Agama Islam, sosoknya adalah mentor yang memberikan arah strategis dalam berdakwah. Ia menekankan bahwa intelektualitas seharusnya menjadi jembatan pencerah bagi masyarakat luas, bukan justru menjauhkan diri dari realitas sosial yang ada di lapangan.
Salah satu poin utama yang terus diperjuangkan oleh Hasrat adalah penguatan konsep moderasi beragama. Ia meyakini bahwa pemahaman agama yang moderat merupakan kunci utama dalam menjaga harmoni di tengah keberagaman masyarakat Sumatera Utara yang sangat heterogen.
Selain isu moderasi, fokus utamanya tertuju pada pembangunan keluarga sakinah sebagai fondasi kekuatan bangsa. Hasrat percaya bahwa karakter unggul sebuah negara dimulai dari kekuatan iman dan karakter yang dibentuk secara kokoh di dalam institusi rumah tangga.
Melalui berbagai karya tulis dan ceramah, ia terus mengajak masyarakat untuk kembali memperkuat nilai-nilai keluarga. Pesan-pesan ini disampaikan dengan bahasa yang mudah dicerna oleh berbagai kalangan, mulai dari praktisi pendidikan hingga masyarakat awam di pelosok daerah.
Pencapaian gelar Guru Besar yang diraihnya menjadi bukti nyata dari konsistensi semangat Long Life Education atau belajar sepanjang hayat. Ketekunan Hasrat dalam menuntut ilmu hingga puncak tertinggi akademik menjadi motivasi bagi generasi muda di Medan untuk terus berkarya.
Ia memberikan contoh nyata bahwa dakwah terbaik adalah melalui keteladanan atau dakwah bil hal. Integritas antara kedalaman ilmu dan kerendahan hati menjadikannya rujukan bagi para aktivis dakwah muda dalam menjalankan tugas-tugas pembinaan umat.
Dedikasinya yang tanpa batas menunjukkan bahwa seorang intelektual sejati adalah mereka yang kehadirannya membawa perubahan positif bagi peradaban. Sosoknya diharapkan terus menjadi kompas bagi masyarakat Sumatera Utara dalam menyelaraskan ilmu pengetahuan dengan kemuliaan akhlak.