Harga emas 24 karat naik di semua platform utama Kamis (7/5/2026). Antam mencapai Rp2.840.000 per gram, didorong stabilitas harga global setelah sinyal kesepakatan damai AS-Iran meredakan kekhawatiran inflasi.
Pasar global mengedepankan optimisme. Harga emas spot internasional bertengger di USD 4.690,49 per ounce (sekitar Rp75 juta dengan kurs Rp16.000), naik 3 persen sejak hari sebelumnya. Dolar AS melemah terhadap mata uang utama lainnya—faktor utama yang mendorong emas menjadi lebih menarik bagi pembeli global.
Antam, produsen emas terbesar Indonesia, menetapkan harga batangan di Rp2.840.000 per gram pada Kamis—naik Rp17.000 dari Rp2.823.000 sehari sebelumnya. Harga buyback emas Antam juga meningkat Rp20.000 menjadi Rp2.645.000 per gram, memberi investor ruang margin lebih lebar untuk melepas aset.
Pegadaian mencatat kenaikan serempak di ketiga merek. Emas Antam di Sahabat Pegadaian naik menjadi Rp2.936.000 per gram dari Rp2.871.000. UBS melonjak ke Rp2.894.000 dari Rp2.783.000. Galeri24 mencapai Rp2.822.000 dari Rp2.764.000 sebelumnya.
Relief pasar muncul atas prospek penyelesaian konflik yang hampir berlangsung 10 minggu. Presiden Trump mengesinyalkan kesediaan mencabut blokade Selat Hormuz dan menghentikan kampanye militer, asalkan Iran memenuhi persyaratan yang telah disepakati. Iran sedang mengevaluasi proposal baru Washington, sementara China memberikan tekanan diplomatik untuk mengakhiri permusuhan.
Ancaman inflasi mulai mereda seiring penurunan harga energi global. Namun Federal Reserve tetap waspada. Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee dan Presiden Fed St. Louis Alberto Musalem mengingatkan inflasi masih berada di atas target 2 persen.
TD Securities menekankan sentimen positif saat ini tetap rapuh dan mudah berbalik jika negosiasi gagal. "Tuntutan AS dan Iran tampaknya tetap tidak berubah dibandingkan proposal sebelumnya," catatan bank itu menunjukkan kesepakatan masih jauh dari pasti.
Bagi pembeli emas di Indonesia, momentum ini memerlukan evaluasi strategi investasi yang cermat. Volatilitas pasar global tetap tinggi dengan dinamika geopolitik yang sulit diprediksi. Data menunjukkan emas telah turun sekitar 11 persen sejak konflik meletus akhir Februari, mencerminkan ketidakpastian yang masih melekat di pasar logam mulia.