MEDAN — Angka ketimpangan gender di Sumatera Utara perlahan mengecil, namun kesenjangan antarwilayah justru melebar. Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut mencatat Indeks Ketimpangan Gender (IKG) provinsi itu turun 0,007 poin menjadi 0,392 pada tahun 2026, tetapi 13 dari 33 kabupaten/kota justru mengalami kemunduran.
BPS Sumut merilis data terbaru yang menunjukkan disparitas mencolok antar daerah. Kota Pematangsiantar mencatat IKG terendah sebesar 0,129, disusul Kota Tanjungbalai dan Kota Medan yang sama-sama di angka 0,132.
Di sisi lain, Kabupaten Padang Lawas menjadi wilayah dengan ketimpangan tertinggi dengan IKG mencapai 0,799. Kabupaten Nias Selatan (0,599) dan Kabupaten Nias (0,587) menyusul di posisi berikutnya.
Yang paling memprihatinkan, Kabupaten Samosir mencatat lonjakan IKG tertinggi, naik hingga 0,170 poin. Sementara itu, Tanjungbalai justru menjadi daerah dengan perbaikan paling progresif, menekan ketimpangan hingga 0,211 poin.
Dari total 33 kabupaten/kota, baru 16 daerah yang memiliki kondisi ketimpangan gender lebih baik dari rata-rata provinsi. Sisanya, 17 daerah, masih tertinggal dalam mengejar target kesetaraan gender di Sumut.
Statistisi Ahli Utama BPS Sumut, Misfaruddin, menjelaskan penurunan IKG dipengaruhi perbaikan di dimensi kesehatan reproduksi dan pasar tenaga kerja. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan naik signifikan 1,26 persen poin menjadi 59,80 persen. Sementara TPAK laki-laki naik 0,60 persen poin menjadi 84,85 persen.
"Peluang perempuan dan laki-laki untuk memasuki pasar kerja di Sumut kini semakin setara," kata Misfaruddin di Medan, Senin (18/5/2026).
Namun, dimensi pemberdayaan mencatat rapor merah. Keterwakilan perempuan di kursi legislatif menurun 1,02 persen poin menjadi 16,33 persen. Laki-laki masih mendominasi dengan porsi 83,67 persen.
Persentase penduduk usia 25 tahun ke atas yang berpendidikan SMA atau sederajat juga mengalami penurunan, baik pada laki-laki (55,64 persen) maupun perempuan (52,01 persen).
Misfaruddin menambahkan, secara akumulatif, IKG Sumut telah turun 0,076 poin sejak 2020 dengan rata-rata penurunan 0,015 poin per tahun. "Jika dibandingkan rata-rata periode 2020–2023, kondisi saat ini secara umum masih jauh lebih baik," ujarnya.
Meski tren positif terjadi di tingkat provinsi, catatan kritis BPS Sumut soal ketimpangan antarwilayah menjadi pengingat bahwa perbaikan belum merata. Sebanyak 13 daerah justru mencatat kenaikan IKG, menunjukkan perlunya intervensi kebijakan yang lebih spesifik di tingkat lokal.