SUMATERA UTARA — Dolar AS ditutup menguat 0,29 persen (52 poin) ke level Rp 17.795 pada Selasa kemarin. Angka ini hanya terpaut lima poin dari level psikologis Rp 17.800 yang sempat dikhawatirkan pasar.
Menanggapi hal tersebut, Purbaya Yudhi Sadewa menyebut kondisi ini kontradiktif dengan data fundamental. "Kan ekonomi bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Ini enggak masuk akal sebenarnya. Biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental," ujarnya di kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta Selatan, Rabu (27/5).
Purbaya menegaskan pemerintah tidak akan melakukan stress test ulang terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akibat pelemahan kurs. Ia mengklaim asumsi rupiah dalam APBN sudah diperhitungkan dengan skenario harga minyak mentah mencapai US$ 100 per barel.
"Enggak (ada stress test), kami sudah hitung, pada waktu simulasi 100 dolar per barel itu, asumsi rupiahnya juga sudah kami perhitungkan. Jadi enggak ada masalah, saya enggak harus hitung ulang APBN-nya," tegas Purbaya.
Meski demikian, ia berkelakar bahwa dirinya sendiri yang stres menghadapi situasi ini. "Ya, saya stress," ujarnya.
Di tengah pelemahan rupiah, Purbaya mencatat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah justru mengalami penurunan. Hal ini tidak lepas dari aksi intervensi di pasar Surat Berharga Negara (SBN) melalui mekanisme treasury operation oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan.
"Tapi gini, walaupun rupiah melemah, kan bond yield-nya turun. Karena aksi dari pemerintah, aksi dari teman-teman kita di Perbendaharaan, untuk sedikit membeli, supaya yield-nya agak terkendali," jelas Purbaya.
Menurutnya, stabilitas di pasar obligasi menjadi kunci untuk menarik kembali aliran modal asing. Ia mengklaim pemerintah sudah mulai melihat aliran masuk investor asing ke pasar SBN.
Purbaya memberi sinyal bahwa pemerintah akan mengambil langkah lebih lanjut untuk menopang rupiah. "Ke depan akan ada tindakan pemerintah lagi yang akan membantu nilai tukar rupiah dengan lebih signifikan," ujarnya.
Ia menekankan bahwa selama pasar obligasi terkendali, minat investor asing untuk masuk kembali akan terjaga. "Jadi selama bond market terkendali, kemauan investor asing untuk melakukan investasi dan pasti juga bond kita akan terjaga juga," pungkasnya.