SUMATERA UTARA — Panggung utama festival jazz terbesar di Indonesia itu berubah menjadi ruang apresiasi ketika pendiri Java Jazz Festival, Peter F. Gontha, naik ke atas panggung. Dalam pidato singkatnya, Peter menekankan peran musik sebagai alat pemersatu bangsa, sebuah pesan yang kerap disampaikan oleh Eros Djarot.
"Musik tidak memandang agama, suku, dan batas negara. Hanya lewat musik kita bisa melihat keindahan. Kalau mau Indonesia maju, kita harus menghargai musik. (Itu) kata Eros," ujar Peter di hadapan penonton.
Pertunjukan dimulai dengan penampilan Dira Sugandi yang membawakan lagu "Serasa" dengan aransemen baru garapan Dwiki Dharmawan. Suasana syahdu langsung tercipta, namun puncaknya terjadi saat Once Mekel mengambil alih panggung.
Mantan vokalis band Dewa 19 itu melantunkan tembang "Angin Malam" dengan karakter vokal khasnya. Penonton sontak bernyanyi bersama dalam koor massal yang magis. Estafet nostalgia kemudian dilanjutkan oleh Andre Hehanusa yang membawakan "Merpati Putih" dengan penuh penghayatan.
Tak kalah memukau, solois Monita Tahalea tampil berkolaborasi dengan maestro gitar asal Bali, Balawan. Duet ini membawakan lagu "Cinta" dan "Hening". Sepanjang sesi, deretan mahakarya Eros Djarot lainnya seperti "Rindu", "Malam Pertama", hingga "Selamat Jalan Kekasih" turut berkumandang.
Di akhir pertunjukan, Eros Djarot yang berusia 75 tahun naik ke atas panggung didampingi seluruh musisi pendukung. Kehadirannya disambut gemuruh tepuk tangan. Ia menyampaikan rasa takjubnya atas konsistensi festival jazz ini dalam menyatukan manusia lewat musik.
"Sepengalaman saya, musik adalah bahasa universal yang menyatukan. Kalau malam ini kita di sini itu karena sahabat saya, Peter Gontha," tutur Eros.
Sebagai pamungkas, Once kembali menghentak panggung lewat lagu "Pelangi" yang dibawakan sebagai klimaks. Sesi ini pun berakhir menjadi penutup yang hangat, sekaligus bukti bahwa tajamnya lirik dan indahnya melodi ciptaan Eros Djarot tidak pernah pudar digerus zaman.