SUMATERA UTARA — Bagi Anda yang bertransaksi valas di bank, harga dolar AS kini sudah di atas Rp 17.900. Di BCA, kurs jual melalui layanan e-Rate (transaksi e-Banking) tercatat Rp 17.898 per dolar AS, sementara kurs beli di level Rp 17.878. Artinya, jika Anda membeli US$ 1.000 melalui mobile banking BCA, Anda harus merogoh kocek sekitar Rp 17,9 juta.
Untuk transaksi tunai di counter (TT Counter) atau penukaran bank notes, harga jual BCA justru lebih tinggi lagi, mencapai Rp 17.940 per dolar AS. Sementara itu, Bank Mandiri dan BNI menawarkan kurs jual khusus (special rate) untuk transaksi di atas US$ 25.000 dengan harga Rp 17.895 dan Rp 17.925 per dolar AS.
Berikut perbandingan kurs jual dolar AS di tiga bank utama pada pukul 09.38 WIB, yang menjadi acuan biaya riil bagi nasabah:
Selisih antara kurs beli dan jual (spread) di masing-masing bank terpantau lebar, terutama untuk transaksi tunai. Spread di BCA untuk TT Counter mencapai Rp 250 per dolar AS, sementara di BNI spread-nya Rp 300 per dolar AS untuk transaksi bank notes.
Fenomena menarik terjadi di pasar keuangan hari ini. Di saat rupiah terpuruk ke Rp 17.864, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mencatat penguatan ke level 6.217. Pergerakan yang berlawanan ini menunjukkan bahwa tekanan pada rupiah lebih disebabkan oleh faktor eksternal, yakni penguatan dolar AS secara global, bukan karena aksi jual besar-besaran di pasar saham domestik.
Bagi investor dan pelaku bisnis, kondisi ini menjadi sinyal untuk lebih cermat mengelola eksposur valas. Pelemahan rupiah yang berkepanjangan akan meningkatkan biaya impor bahan baku dan memperbesar beban utang perusahaan yang memiliki pinjaman dalam dolar.
Kurs yang dipublikasikan oleh bank bersifat indikasi dan dapat berubah sewaktu-waktu selama proses transaksi berlangsung. Untuk transaksi dengan nominal besar, nasabah disarankan menghubungi cabang bank terdekat untuk mendapatkan kurs khusus yang berlaku pada tanggal efektif transaksi.